Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Ini Makna Seragam Putih Milik TNI-AL

Ini Makna Seragam Putih Milik TNI-AL

TerasJatim.com, surabaya – Selain warna biru laut dan doreng, TNI-AL memiliki seragam khusus yakni warna putih-putih. Seragam putih yang menjadi seragam kebesaran Korps Angkatan Laut itu ternyata memiliki makna yang cukup dalam.

Menurut Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Ade Supandi, seragam putih bermakna jika kematian pasti akan datang. “Para pejuang telah mewariskan semangat mental juang tanpa pamrih, walaupun kematian pasti akan datang. Ini disimbolkan dengan seragam putih ini,” kata orang nomor satu di jajaran TNI AL itu pada Peringatan Hari Dharma Samudera 2018 di Dermaga Ujung Koarmatim Surabaya, Senin (15/01).

Dengam seragam putih, lanjut Ade, memang kematian bahkan saat bertugas atau berperang pasti akan datang. “Prajurit TNI AL yang berperang pasti siap mati. Namun jangan sampai mati sia-sia. Ini yang kami teladani dari para senior,” tutur pria dengan pangkat bintang empat di pundaknya itu..

Ia juga berpesan pada generasi muda, khususnya para prajurit baru, agar memahami makna seragam putih. “Siap mati itu semata-mata hanya untuk menjaga kedaulatan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” tegasnya.

Untuk itu, Kasal juga menargetkan seluruh prajurit TNI AL untuk bisa selalu menang atau tidak kalah di setiap peperangan. “Situasi kekinian perang sudah menggunakan teknologi. Jika dulu masih manual, maka sekarang sudah ada satelit dan drone. Sehingga perang tidak lagi gerilya di laut,” ungkapnya.

Menurut dia, ada berbagai dimensi peperangan. Mulai di bawah air, atas air, udara, ranjau, terbuka atau siber. “Semua harus dikuasai oleh prajurit TNI AL. Untuk itu, profesionalisme prajurit sangat penting untuk ditingkatkan terus. Sedangkan alutsista TNI seperti KRI adalah sistem dasar Angkatan Laut. Tidak ada kapal perang, maka tidak ada Angkatan Laut,” tuturnya.

Pria lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) 1983 itu menambahkan, di laut ancaman pertama saat ini adalah konflik perbatasan. “Perang itu adalah kelanjutan diplomasi yang buntu. Diplomasi semoga ada solusinya. Kalau ingin damai memang harus perang dulu. Mau perang tapi gak punya senjata juga percuma,”  tandasnya. (Jnr/Ah/Kta/Red/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim