Tiga Cara Selamat dari Musibah

TerasJatim.com – Kita semua menyadari bahwa musibah dapat menimpa siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Tidak seorang pun dapat memastikan bahwa hidupnya akan selamanya lapang tanpa cobaan. Karena itu, memahami hakikat musibah dan cara menjaga diri darinya merupakan keperluan penting bagi setiap manusia.
Di dalam ajaran Islam, musibah bukanlah kejadian tanpa arah. Allah SWT memiliki rahasia dan tujuan ketika mendatangkan bencana atau ujian. Ada kalanya musibah menjadi teguran agar manusia kembali kepada Tuhannya, ada kalanya sebagai penghapus dosa, dan sering kali sebagai sarana untuk meninggikan derajat orang beriman. Maka, kedatangan musibah bukan hanya peristiwa duniawi, tetapi bagian dari pendidikan ilahi bagi jiwa.
Untuk memperoleh kondisi aman dari berbagai bentuk bencana atau kemampuan menghadapi musibah dengan hati yang teguh kita memerlukan keseimbangan antara usaha batin, usaha lahir, dan kekuatan sabar. Inilah tiga pendekatan utama agar seorang hamba tetap terlindungi dalam lindungan Allah SWT.
Pendekatan pertama berkaitan dengan upaya keagamaan, yakni memperkuat hubungan dengan Allah melalui doa dan zikir. Nabi Muhammad SAW sendiri memohon perlindungan dengan doa, “Allahumma inni a‘udzubika min jahdil-bala’,” yang artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya cobaan.
Ayat-ayat Al-Qur’an pun menunjukkan bahwa istighfar dapat menjadi sebab dihilangkannya kesulitan dan diturunkannya pertolongan. Dengan memperbanyak zikir pagi dan petang, menjaga shalat, dan bersedekah, seorang hamba seolah membangun benteng rohaninya agar tidak mudah digoyahkan musibah.
Doa dan zikir tersebut tidak hanya menjadi permohonan, tetapi juga menenangkan hati. Ketika lidah terbiasa menyebut nama Allah, kecemasan pun perlahan luruh. Sedekah yang dilakukan dengan niat tulus menjadi sebab dibukanya pintu keberkahan. Zikir harian menjaga kesadaran kita bahwa segala sesuatu berada dalam pengawasan Yang Maha Melindungi. Inilah keamanan batin yang menjadi fondasi keselamatan lahir.
Pendekatan kedua adalah upaya duniawi atau mitigasi, yaitu langkah-langkah praktis untuk menghindari bahaya dan mengurangi risiko. Islam mengajarkan bahwa tawakal harus didahului dengan ikhtiar. Rasulullah SAW menasihati seorang sahabat agar mengikat untanya terlebih dahulu sebelum berserah diri kepada Allah. Artinya, kehati-hatian adalah bagian dari ajaran agama.
Mitigasi dapat berupa perencanaan hidup yang lebih tertata, menjaga kesehatan lingkungan, memeriksa kondisi tempat tinggal, mematuhi standar keselamatan di lingkungan kerja, dan mengelola keuangan dengan baik agar tidak terseret krisis. Begitu pula membangun hubungan sosial yang sehat dapat menjadi pelindung dari konflik dan tekanan hidup. Semua itu termasuk usaha manusia untuk menjaga diri dari potensi musibah sebelum musibah itu benar-benar datang.
Pendekatan mitigatif ini juga menuntut kesiapan mental dan pengetahuan. Mengikuti pelatihan keselamatan, memahami langkah darurat ketika terjadi bencana, atau berkonsultasi kepada ahli kesehatan menunjukkan bahwa ikhtiar duniawi merupakan bagian dari tanggung jawab seorang hamba. Dengan persiapan yang memadai, kita tidak hanya mengurangi risiko bahaya, tetapi juga menenangkan keluarga dan lingkungan.
Pendekatan ketiga adalah kesabaran bila musibah benar-benar turun. Ada kalanya ujian datang meskipun semua ikhtiar telah dilakukan. Pada saat seperti itulah kesabaran menjadi kekuatan utama. Sabar bukan berarti pasrah tanpa daya, tetapi kemampuan untuk tetap tenang, tidak panik, dan menerima ketentuan Allah dengan hati yang bersandar kepada-Nya.
Kesabaran melahirkan keteguhan. Ia mencegah seseorang dari sikap tergesa-gesa, keluh kesah berlebihan, atau hilang harapan. Dengan sabar, seseorang mampu melihat hikmah yang tersimpan di balik ujian. Mungkin musibah itu mendekatkan dirinya dengan keluarga, membuatnya lebih peka terhadap sesama, atau mengingatkannya pada nikmat yang selama ini terabaikan.
Sabar juga mengajarkan bahwa setiap ujian memiliki batas waktu. Tidak ada musibah yang datang tanpa akhir. Hati yang sabar akan lebih mudah menemukan solusi, memohon pertolongan, dan bangkit kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Inilah makna mendalam selamat dari musibah yakni ketenangan jiwa meski berada di tengah badai.
Dalam situasi seperti sekarang ini kita hendaknya membangun perlindungan diri dengan memperkuat doa, menjalankan mitigasi secara bijak, dan menanamkan kesabaran dalam hati. Dengan tiga pendekatan ini, semoga Allah SWT menjaga kita dari segala bentuk musibah dan memberikan kemampuan untuk melewati setiap ujian dengan keimanan dan keteguhan. Semoga hidup kita selalu berada dalam naungan rahmat, petunjuk, dan penjagaan-Nya. Aamiin.
M. Ishom el Saha (Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten)


