Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Lamseng Saragih, Ramai Dibicarakan Sebagai Wapres 2019

Lamseng Saragih, Ramai Dibicarakan Sebagai Wapres 2019

TerasJatim.com, Banyuwangi – Lamseng Saragih, nama PNS Pemkab Banyuwangi ini belakangan ramai menjadi pembicaraan hangat di kalangan pegiat lembaga swadaya masyarakat (LSM), politikus, insan media, akademisi, pengusaha dan kelompok masyarakat lainnya.

Namanya santer disebut layak masuk dalam wacana bakal kandidat Wakil Presiden RI 2019.

Siapakah sebenarnya sosok Lamseng Saragih?

Lamseng Saragih adalah putra Batak yang sudah 30 tahun tinggal di Banyuwangi Jatim. Selain sebagai PNS, selama di Banyuwangi ia dikenal di kalangan aktivis LSM dan media, karena integritas, konsistensi dan eksistensinya dalam gerakan pemberantasan Korupsi, membela hak-hak rakyat yang teraniaya.

Selain itu, Lamseng juga dikenal sebagai aktivis lingkungan, pionir penanggulangan sampah dan sangat aktif dalam program pemberdayaan masyarakat dengan  konsep ekonomi kerakyatan dan koperasi.

Kepada media, Lamseng menyampaikan wacana untuk menjadi Wakil.Presiden RI 2019 tersebut sudah direncanakan sejak tahun 2000 lalu, bersama dengan rekan-rekannya di Jakarta dan di seluruh Indonesia.

Wacana menjadi bakal kandidat wapres sudah mulai dipublikasikan sejak 5 tahun silam. “Artinya, wacana tersebut tidak dimunculkan secara mendadak,” tuturnya.

Saat ditanya terkait visi dan misinya jika cita-citanya terkabul, Lamseng mengaskan jika visinya adalah Indonesia Jaya.

Sementara misinya adalah ingin mengubah sampah jadi berkah (semua sampah dijadikan uang), mengubah desa tanpa APBDes, ekonomi kerakyatan, memberantas korupsi tanpa menghakimi (tanpa pengadilan), mengubah Institusi tanpa Instruksi, mengubah negeri dari rumah sendiri dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Diakuinya, visi-misinya pasti mengundang tanda tanya dan berbeda dengan yang lain. Tetapi, menurutnya, dirinya sudah membuktikan dan bisa. “Artinya bukan lagi sekadar janji tapi bukti. Bukti-buktinya nanti kita tunjukkan ke publik,” bebernya.

Pria yang lahir di Sidikalang Dairi, Sumatera Utara, sebuah dataran tinggi yang berjarak 150 km dari Medan dan berbatasan langsung dengan Danau Toba, serta dikenal sebagai penghasil kopi itu, menceritakan perjalanan hidupnya.

Di kota kelahirannya itu, dia menempuh pendidikan SD, SMP, dan SMA. Sejak SMP hingga SMA, dia selalu terpilih sebagai ketua kelas. Saat SMA, ia juga aktif dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Hal ini menunjukkan leadership-nya yang sudah mulai tampak sejak kecil. Bahkan semakin terasah dan berkembang seiring pembelajaran berorganisasi di bangku sekolah.

Tergolong sebagai siswa yang cerdas dan mendapat julukan genius dari teman-teman sekolahnya, karena ia selalu meraih prestasi ranking 1 atau 2.

Selanjutnya ia masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1982 tanpa tes dan memilih jurusan Fakultas Kedokteran Hewan.

Selama kuliah, Lamseng aktif dalam organisasi GMKI, yang termasuk dalam kelompok Cipayung. Dan banyak berdiskusi dengan para tokoh Angkatan ‘66, antara lain Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, dan sejumlah tokoh nasional lainnya.

Lulus sebagai Dokter Hewan (Drh) pada tahun 1988, ia langsung berkarir di BULI (Berdikari United Livestock), importir sapi perah, anak perusahaan Berdikari Group, hingga tahun 1990.

Selanjutnya pada tahun 1991-1993, bergabung dengan Gudang Garam Group. Pada tahun 1994, atas permintaan Istrinya, Lamseng mendaftarkan diri menjadi pegawai negeri sipil (PNS), dan lulus tanpa KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme).

“Selama menjadi PNS sampai sekarang, saya tidak pernah mau dan tidak pernah ikut menangani proyek supaya tidak terlibat korupsi, sehingga bisa dikatakan nol korupsi,” tuturnya.

Beberapa kali ditawari promosi jabatan, dia selalu menolak. Bahkan lebih memilih tetap sebagai pejabat terendah eselon 4, agar tetap terhindar dari KKN.

Selama menjadi PNS, Lamseng dikenal sangat vokal. Beberapa kali memimpin unjuk rasa menentang kebijakan Bupati Banyuwangi.

Seperti pada masa pemerintahan Bupati Ratna Ani Lestari, unjuk rasa dengan ratusan PNS yang menolak kesewenang-wenang bupati dalam memutasi pejabat Pemkab Banyuwangi.

Pada masa Bupati Abdullah Azwar Anas, ia juga berunjuk rasa bersama universitas swasta se Banyuwangi yang menolak kelas jauh Universitas Airlangga, karena dinilai melanggar undang-undang.

Unjuk rasa pro rakyat juga pernah dia lakukan di depan kantor Pemkab dan DPRD Banyuwangi. Saat itu, Lamseng memimpin unjuk rasa petani Wongsorejo yang menuntut hak atas tanah yang dikuasai oleh pengusaha perkebunan.

Dia juga menjadi tokoh utama mendampingi warga Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, dengan membentuk Forum Masyarakat Bulusan Cinta Lingkungan (Formas BCL), menolak pendirian pabrik Indocement.

Berbagai kiprahnya menunjukkan bahwa seorang Lamseng Saragih bukanlah seorang yang hijau dan baru dalam berbagai aktivitas politik dan kemasyarakatan. Perjalanan hidupnya selama ini menggambarkan sosok yang memiliki integritas, konsisten, jujur, dan leadership yg diakui oleh orang-orang di sekelilingnya.

Selama berkarir sebagai PNS di Pemkab Banyuwangi, dirinya tetap membangun komunikasi dengan para elit politik di Jakarta. Kebetulan di antara mereka adalah teman-temannya di sekolah dan teman-teman kuliahnya jaringan alumni IPB.

Tak hanya itu, Lamseng juga menjalin komunikasi dengan teman-temannya di berbagai ormas, parpol, dan pejabat eksekutif maupun legislatif.

Dia juga terlibat dalam gerakan Reformasi 98 dan tetap berjejaring dengan aktivis 98 sampai dengan sekarang. “Semua tidak terekspos dan tidak diekspos, karena status masih sebagai PNS,” ujarnya.

Menikah dengan seorang putri Jawa kelahiran Jember yang besar di Banyuwangi. Ia mengaku, Istrinya masih ada hubungan darah dengan Keraton Jogja, melalui garis ayah dan ibu asal Singosari, Malang.

Dari pernikahannya, Lamseng memiliki 2 orang anak. Putri pertamanya adalah Sarjana Ekonomi alumni Universitas Negeri Jember (Unej), yang kini berkarir di BRI. Sedangkan putra keduanya baru kuliah di bangku semester 5 jurusan Sistem informasi.

Diakhir, Lamseng memohon doa dan dukungan dari warga Jatim dan Indonesia untuk maju terpilih sebagai Wakil Presiden RI 2019. (Advertorial)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim