Roh Topeng Malang, Telah Hilang

Roh Topeng Malang, Telah Hilang
Kesenian Topeng Malang

TerasJatim.com, Malang – Kesenian Topeng Malang yang kian hari makin surut, menjadi perhatian banyak kalangan. Bergaungya nama Topeng seakan kuat di luar, namun kosong di dalam. Dan inilah penyebab banyaknya seniman prihatin dan selalu melakukan kajian serta diskusi dengan generasi muda.

Diskusi embongan menjadi salah satu wadah yang disasar oleh seniman untuk menguraikan kegelisahan ini. Bertempat di Rumah Peneleh di Jl. Bogor no 1 Malang, mereka mendiskusikan keadaan ini. Keprihatinan atas apa yang menimpa kesenian asli Malang ini terpapar kala narasumber yang sekaligus pemateri dalam Sinau Embongan ke tujuh yang malam itu bertemakan “Topeng Malang”.

Tampil sebagai narasumber malam itu, Suroso (cucu Mbah Karimun), Priyo Sunanto Sindy, Yonky Irawan, serta penulis buku Panji, Henri Nurcahyo.

Acara yang sempat molor dari jadwal tersebut, tidak mematahkan semangat para sesepuh kesenian Malang untuk mengungkapkan permasalahan yang sedang merundung Topeng Malang.

Yongki Irawan, pegiat kesenian Malang dalam awal uraiannya menuturkan, bila banyak masalah yang menyebabkan Topeng Malang kian pudar. Dirinya menuturkan, bila roh Topeng telah hilang, dan sekarang topeng tidak dihargai, terlebih oleh sang penarinya sendiri.

Yongki melanjutkan, penari sekarang memperlakukan topeng selayaknya barang biasa. “Mereka menyimpan topeng secara sembarang, ditumpuk tanpa kantongi dan diletakan di karung. Bila selesai menari, topeng itu digeletakan sembarang tempat dan tidak di letakan diatas meja, kadang juga dilangkahin,” urainya.

Yongki juga menuturkan, keadaan ini sangat berbeda dengan leluhur dahulu, Topeng di tempatkan sebagai pusaka dan selalu diajak berbicara ketika akan dipakai. Leluhur selalu menyimpan dengan hati-hati dan dimasukan dalam kantung-kantung sebelum disimpan.

Yongki yang pernah menjadi pengurus DKM (Dewan Kesenian Malang) ini, melanjutkan uarainya, dimana Topeng Malang hanya menjadi kesenian yang menarik para pejabat bila dikala ada projek saja. Di lain itu, Topeng akan dilupakan.

“Ini adalah persoalan yang dari dahulu hingga sekarang selalu terulang,” lanjutnya.

Dirinya juga mengaitkan merosotnya kesenian Topeng juga lantaran pengaruh suhu politik yang lagi berkembang di setiap masa. Dirinya mencontohkan, bila Topeng kini juga mengalami hal ini, Topeng dikatakan adalah kesenian yang dekat dengan kemusrikan.

“Dalam setiap gebyakan topeng yang telah lama ada dalam kotak pasti dibakari dupa atau wewangian. Hal ini adalah salah satu cara menghilangkan bau jamur pada topeng yang terbuat dari kayu dan karena lama disimpan.

“Dibakari dupa itu untuk menghilangkan jamur, bayangkan bila topeng kayu penuh jamur itu dibuat menari. Baunya, apa kuat penari mengenakan 15 menit saja, itulah kenapa dibakari, ya untuk menghilangkan jamur,” tegasnya.

topeng

Sementara itu, Suroso, pelaku Topeng sekaligus cucu dari Maestro Topeng Kedungmonggo ini juga menuturkan, bila Topeng dahulu mempunyai kodam dan itu karena dalam perlakuannya selalu memakai kasih sayang oleh penarinya. Selain diajak ngidung ketika akan dipakai, topeng dari awal pembuatannya hingga menjadi topeng juga disertai dengan doa-doa. Selain itu, bila topeng Malangan adalah kesenian Sendratari Topeng,

Suroso menuturkan, bila kesenian ini sangat terkait antara tarian dan juga cerita dalam gelar Wayang Topeng. Hal ini diungkapkan saat menjawab pertanyaan salah satu mahasiswa Unair, yang sedang meneliti Topeng untuk pendidikan S2-nya.

Dalam diskusi ini juga terlihat bila pemerintah Malang tidak pernah hadir dalam upaya melestarikan atau mengembangkan kesenian asli Malang ini.

“Kesenian Topeng, Ludruk, Ketoprak hingga Jaranan bertahan dengan sendirinya, bertahan pada pundak senimannya, pemerintah tidak ada saat dibutuhkan. Sementara Kita tahu kesenian ini telah banyak menyumbang dalam membesarkan nama Malang,” ujar Suroso.

“Pemerintah tidak pernah mengajak seniman untuk berembuk demi perkembangan kesenian Malang, malah orang luar yang belajar hingga dibelain menikah dengan senimannya, lalu kesenian itu dibawa ke pulang ke Amerika, dan di sana dirinya mendirikan universitas karawitan,” ujar salah satu pembicara.

Diskusi semakin gayeng, ketika Henri Nurcahyo menceritakan perjalanan dirinya sebagai jurnalis yang “kesengsem” dengan cerita Panji, yang selalu dimainkan dalam Wayang Topeng.

Henri menceritakan ketertarikannya hingga melanglang buana ke banyak daerah hanya untuk mengikuti ataupun mengumpulkan data tentang Panji.

“Dari Malang, Jogja hingga Jakarta dan banyak kota saya datangi hanya untuk sekedar hadir dalam sarasehan atau diskusi tentang Panji, contohnya seperti saat ini saya hadir di sini,” tutur pria kelahiran Sidoarjo ini.

Di sesi terakhir sekaligus penutup diskusi yang dihadiri Mahasiswa Sastra UM, Komunitas Ongis Nade, BARA JP, dan pelaku seni Topeng Malangan ini, Henri Nurcahyo membacakan puisi “Panji”.

Puisi yang mengisahkan siapa sosok Panji ini sendiri, dan Panji yang besar namun kian dilupakan oleh masyarakat Indonesia, khusunya Jawa Timur asal budaya Panji lahir. (Nas/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim