Kangen ‘Tandak Ludruk’

Kangen ‘Tandak Ludruk’

TerasJatim.com,  – Saat habis dhuhur-an, saya iseng buka akun FB-nya TerasJatim. Saya lihat kronologinya, dan mata saya tertuju pada sebuah like di wall-nya. Di situ rupanya ada list pertemanan TerasJatim dengan nama sebuah grup kesenian “Ludruk Budhi Wijaya” dari jombang.

Berbicara soal ludruk, memori saya akhirnya lari jauh ke belakang. Saat di tahun 80-an, saya paling suka kalau diajak nonton pagelaran ludruk. Ludruk favorit saya saat itu adalah ludruk RRI Surabaya. Kebetulan, secara rutin di halaman RRI Surabaya, di Jalan Pemuda, di setiap malam minggu pasti ada pementasan gratis dan selalu disiarkan oleh RRI juga.

Hampir semua bintang-bintangnya (saat itu) saya kenal namanya. Mulai cak Markaban, cak Sidik, cak Muali, cak Kancil Sutikno sampai dengan ning Lasiana dan bu Umi Kalsum.

Setiap pagelaran ludruk, selalu diawali dengan tari remo Jawa Timuran. Konon, tari ini merupakan tari ucapan selamat datang untuk para tamu dan undangan yang menyaksikan pagelaran ini. Makanya tidak heran di tari ini yang biasanya diperankan oleh seorang pria gagah yang berkumis tebal, sekaligus ngidung atau nembang, pasti diawali dengan kalimat, “sugeng rawuh, sugeng pinarak ingkang sekeco”.

Tembang ini menggambarkan bagaimana humble-nya sosok orang Jawa Timur yang selalu mengawali hormat terhadap siapa saja tamunya, sekaligus mempersilahkan untuk duduk dan menikmatinya.

Tari remo juga bisa dilakukan oleh satu atau lebih penari wanita, yang biasa disebut sebagai tandak ludruk. Dulu, tandak ludruk bisa jadi seorang pria yang macak menjadi wanita yang berparas ayu dan punya suara bagus dalam kidungan-nya.

Dari kebiasaan nonton dan mendengarkan siaran ludruk, lambat laun saya mulai bisa sedikit memahami dan menghapal kidungan parikannya. Kidungan, sama dengan menyanyi yang diiringi oleh gamelan khas jawa.

Parikan bahasa ludruk yang biasanya diselipkan dalam dialog atau dinyanyikan dalam irama tembang jula-juli, sangat pas dan mempunyai keunikan dalam arti dan maknanya. Parikan dalam seni kebudayaan ludruk, sama halnya dengan berpantun, yang selalu membawa makna dan pesan.

Selain parikan, dalam adegan ludruk, banyak kosa kata khas bahasa ludruk yang mempunyai pesan moral terhadap siapa saja. Banyak pitutur kebecikan yang terkandung dari setiap dialog dan alur kidungan parikannya.

Seperti parikan, “ngisor mejo ono ulone, ojo gelo wes carane”. Kalimat ini terkesan sangat sederhana dan khas kampung. Tapi di balik itu ada makna yang dalam, bahwa sebenarnya kita harus bisa memahami atas sebuah keberagaman dalam hidup. Kita diingatkan untuk selalu adaptif terhadap lingkungan di mana saja kita tinggal dan bergaul.

Ada lagi kalimat  dialog yang sarat akan sebuah peringatan, yaitu “ojo adigang adigung adiguno sopo siro sopo ingsun”, arti dari kalimat ini kurang lebih, kita diminta untuk tidak mengedepankan siapa diri kita terhadap sesama.

Kemudian yang sampai sekarang masih saya ingat, kalimat “nang dunyo mung mampir ngombe“. Makna dari kalimat tersebut memberikan pitutur bahwa sebenarnya manusia dalam hidupnya hanya sebatas mampir untuk minum. Setelah minum kita akan melanjutkan sebuah perjalanan panjang yang mempunyai tujuan akhir. Selain itu, kita diminta untuk selalu andap asor, membumi dan jauh dari kata “kuasa”.

Sudah belasan tahun saya jauh dari kesenian ini. Saya kurang memahami lagi bagaimana kondisi pementasan ludruk sekarang. Di jaman saya kecil dulu, banyak kita temukan lapangan-lapangan desa dan kecamatan dipakai sebagai ajang tanggapan ludruk yang dikarciskan. Istilah jaman dulu, Nggedong. Dan setiap malam, selalu penuh dengan penontonnya.

Saya paling suka kalau pas adegan lawaknya, selain menghibur dan bisa dinikmati golongan tua dan muda, lawak khas ludruk  berdurasi cukup lama dan selalu menceritakan pengalaman yang sering terjadi sehari-hari di lingkungan masyarakat kita.

Selain di awali dengan kidungan jula-juli yang menjadi trade mark-nya serta banyolan-banyolan alaminya, lawakan ludruk selalu menghadirkan bintang-nya seorang perempuan yang dianalogikan sebagai wanita paling cantik di group itu, yang disebut sebagai primadona-nya ludruk.

Buat saya kesenian ludruk harus tetap ada dan selalu dijaga kelestariannya. Ludruk buat saya, banyak mencerminkan suasana keseharian dan kebatinan rakyat kecil yang sebenarnya. Tanpa mengecilkan peran seni yang lain, ludruk adalah roh seni tradisional masyarakat Jawa Timur, yang  kita rasakan  semakin  kurang diperhatikan.

Seharusnya, semua elemen masyarakat dan pemerintah, memberikan ruang yang luas untuk ludruk dan kesenian tradisional lainnya untuk terus berkembang dan berkreasi di negerinya sendiri.

Jangan malu nanggap ludruk, jangan sungkan mendengar parikan. Semangat terus untuk dulur-dulurku seniman ludruk.

Buat kita semua, sampeyan adalah orang-orang hebat. Saya kangen dengan kidungan  dan kemayune tandak ludruk.

Salam Kaji Taufan

(kajitaufan@terasjatim.com)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim