Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Ini Sosok Imam Musthofa, Pelaku Penyerangan Mapolsek Wonokromo

Ini Sosok Imam Musthofa, Pelaku Penyerangan Mapolsek Wonokromo

TerasJatim.com, Surabaya – Imam Musthofa, pria yang menyerang 2 anggota Polsek Wonokromo, Surabaya, pada Sabtu (17/08/19) sore kemarin, kini sudah diamankan dan tengah menjalani pemeriksaan intensif oleh tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri.

Imam diketahui merupakan pria kelahiran Dusun Karangjati, Desa Talaga, Kecamatan Ganding, Sumenep, Madura, pada 15 Juli, 31 tahun lalu.

Dilansir matamadura, sebelumnya beraksi menyerang Mapolsek Wonokromo, Imam pulang ke Sumenep dan kembali ke Surabaya naik bus sendirian beberapa hari lalu. Kemudian dia pulang sebentar ke tempat kos istrinya di kawasan Sidosermo Surabaya, lalu pergi menghilang hingga aksi penyerangan berdarah tersebut.

Imam sendiri merupakan santri alumni Ponpes Tarbiyatul Mu’allimien Al Islamiyah (TMI) Al Amin, Prenduan, Sumenep, Madura.

Baca juga: https://www.terasjatim.com/berpura-pura-melapor-pria-ini-lukai-2-anggota-polsek-wonokromo/

Dikutip dari INews, Humas Ponpes TMI Al Amin, Hamzah Arsa mengatakan, jejak Imam Mustofa selama menimba ilmu di Ponpes TMI Al Amin sangat baik. Pelaku juga dikenal taat dan tidak pernah melanggar disiplin yang diterapkan ponpes.

“Waktu di pondok tidak ada yang aneh, baik taat tidak pernah melanggar disiplin pondok. Tamat tepat waktu. Dia juga beraktivitas sebagaimana santri lain,” katanya.

Dia menuturkan, setelah lulus dari Ponpes Al Amin, Imam mengabdikan ilmunya ke masyarakat di kampung halamannya. Selama masa pengabdian, kata dia, ia juga tidak memiliki gelagat aneh.

Perilaku aneh Imam mulai muncul setelah merantau ke Jakarta pada 2014 lalu. Setelah 1 tahun merantau di Ibu Kota, Imam kembali ke Madura dan merantau lagi ke Surabaya.

“Kami konfirmasi ke adiknya, kebetulan jadi ustazah juga di sini (Ponpes Al Amin). Katanya, tidak ada perubahan karakter setelah lulus. Sejak 2007 sampai 2014 tidak ada perubahan perilaku sama sekali, masih sama seperti santri. Baru setelah merantau ke Jakarta, mulai ada keanehan,” katanya.

Keanehan perilaku Imam, semakin terlihat ketika menikah dengan perempuan bercadar dan bergabung kelompok pengajian. “Perubahan (perilaku) itu waktu ikut pengajian. Ini yang perlu ditelusuri dan penampilannya mulai berbeda. Istrinya mulai pakai cadar. Imam juga sering mengingatkan orang tuanya yang macam-macam. Itu juga membuat orang tuanya sering mengingatkan jangan terjerumus ke radikalisme,” paparnya.

Aksi nekat pria penjual sempol ini diduga terkait paham jihad radikalisme. Dugaan ini perkuat dengan barang bukti yang ditemukan di dalam tasnya, diantaranya pisau penghabisan, celurit, ketapel dengan amunisi kelereng, senjata api gas gun, dan 2 lembar kertas fotocopy bertulis La Ilaha Illallah dan ISIS.

Selain sudah mengamankan Imam, polisi juga membawa istri dan anak Imam untuk dimintai keterangan. Kini, kasus ini masih dalam penyelidikan Densus 88 dan Polda Jatim. (Ah/Kta/Red/TJ)

Baca juga: https://www.terasjatim.com/jadi-korban-penyerangan-anggota-polsek-wonokromo-jalani-operasi-medis/

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim