Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Wisata Edukasi Petik Jeruk di Tlekung Batu Dibuka

Wisata Edukasi Petik Jeruk di Tlekung Batu Dibuka

TerasJatim.com, Batu – Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Desa Tlekung Kecamatan Junrejo, Kota Batu, membuka wisata edukasi petik jeruk yang diperuntukan bagi masyarakat umum.

“Jika dirasa jeruk yang sudah masanya panen tetapi buahnya masih ada di kebun Balitjestro maka wisata edukasi petik jeruk, waktunya akan diperpanjang hingga buahnya habis,” kata Agus Sugiyatno, Ketua Panitia workshop Pedoman Teknis Produksi Benih Jeruk Balitjestro, Sabtu (27/07/19).

Agus berharap, dibukanya edukasi petik jeruk ini dapat memberikan informasi terkait jeruk. Oleh sebab itu, masyarakat dapat datang ke tempat ini. “Siapa saja boleh, karena ini untuk umum. Ini untuk pendidikan wisata petik jeruk,” ujar dia.

“Mereka yang datang bisa berfoto ria dan pulang bisa membawa satu kilogram buah jeruk segar plus ada tambahan welcome drink, minuman gratis dari Balitjestro, satu paket kupon masuk hanya Rp 25 ribu,” urai Agus.

Hal senada juga diungkapkan Sutopo, yang juga Pengelola Taman Sain Pertanian (TSP) Peneliti Balitjestro Badan Penelitian dan Pengembangan pertanian (Balitbang). Menurutnya, dalam wisata edukasi petik jeruk ini pengunjung akan mendapatkan banyak ilmu pengetahuan terkait tanaman jeruk.

“Kita memberi edukasi baik secara sederhana mengenai varietas cara budidaya pengelolahan, nama penyakit sampai pemasarannya. Jadi kira-kira seperti itu wisata petik jeruk diperuntukkan untuk semua masyarakat yang mau menikmati petik jeruk di Balitjestro,” kata Sutopo.

Sutopo juga menyinggung terkait budi tanaman tanaman jeruk yang paling tepat di kota Batu dan Jatim pada umumnya adalah Sistim Tanaman Rapat (sitara), karena lahan pertanian di Jatim dan Kota Batu sekarang ini dari tahun ke tahun semakin berkurang.

“Yang tepat adalah dengan menggunakan sistem Sitara, karena dengan lahan yang sempit kita dapat menghasilkan produksi yang tinggi. Untuk lahan di Kota Batu yang cocok adalah Sitara,” jelasnya.

Sistem ini kata dia, sudah banyak diterapkan. Selain Jatim juga banyak daerah-daerah lain di Indonesia, dan mendapatkan hasil panen yang berlipat. Dengan system ini 3,5 tahun sudah mulai masa panen hingga umum 20 tahun, dengan catatan pemeliharaan dilakukan secara baik.

“Produksi jeruk di Kota Batu secara umum sudah memenuhi kebutuhan, tetapi kebutuhan jeruk di Jatim, Jakarta dan kota-kota lain, secara umum masih kurang,” pungkas dia. (Kta/Red/TJ/HO-KBRN)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim