Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Dolar “opo” Dokar ?

Dolar “opo” Dokar ?

TerasJatim.com – Saya dari dulu adalah orang yang paling tidak “gupuh” dalam menyikapi melemahnya  nilai rupiah dan menguatnya dolar.

Kebetulan dari dulu saya tidak biasa dan tidak punya simpanan dolar.

Paling, kalau memang ada rencana pergi ke luar (negeri), itupun jarang sekali.

Saat saya di Santa Fe Energy Resources (perusahaan minyak Amerika) dulu, katanya saya juga digaji pakai kurs dolar. Tapi yang masuk ke rekening saya, tetap rupiah.

Yang saya ingat, tahun 1997 lalu kurs 1 dolar sama dengan Rp. 2.500,- kemudian naik-naik ke puncak gunung dan pada awal 1998 menyentuh  ke level 14 ribuan lebih. Kemudian pak Harto jatuh.

Saat itupun saya juga “gak begitu ngurus” dengan melemahnya rupiah. Karena memang waktu itu dampaknya tidak begitu dirasakan oleh masyarakat kecil (termasuk saya).

Justru saat itu rakyat kecil “seneng dan gumuyu” karena sang raja penguasa dipaksa untuk turun tahta, bahasa kerennya euforia.

Tapi masalahnya sangat jauh berbeda dengan sekarang. Banyak teman-teman saya yang pengusaha, makelar dan bakulan melijoh di pasar merasakan bahwa rupiah semakin susah dicari. Dan ketika telah didapat, “ora ono regane”. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik dan kadang tidak logis di pikiran rakyat. Harga daging sapi, menyentuh angka  100 ribuan, begitu juga dengan harga tempe tahu yang ikut-ikutan tak terkendali.

Saya tidak ingin mengkritisi siapapun, tapi buat saya negeri ini sedang jatuh  “sakit”.

Pejabat dan pengamat ekonomi berkilah bahwa kita tidak sendiri. Pengaruh ekonomi global termasuk pemotongan nilai mata uang dibeberapa negara maju katanya sangat mempengaruhi. Ditambah lagi kondisi politik disebagian negara-negara arab yang masih terus berkonflik. Perang ekonomi negara-negara raksasa (Amerika-China) dan masih banyak lagi alasan-alasan dengan bahasa orang pinter.

Oke lah, kita semua menyimak penjelasan  itu. Tapi buat saya, rakyat, pelaku usaha kecil, makelar, tukang ojek, kita semua merasakan dampak dan beratnya kehidupan dan ekonomi sekarang. Yang kita lihat dan rasakan adalah hidup di negeri ini susah lahir batin. Banyak pabrik mengurangi bahkan menghentikan produksi, merumahkan bahkan mem-PHK buruh dan karyawan.

Fakta lainnya, ibu-ibu rumahan pusing  mengatur belanja untuk biaya hidup (belanja harian, bayar rekening listrik, air) termasuk biaya pendidikan (iuran karnaval, spp anak). Sedangkan jatah yang mereka terima dari suaminya bukannya bertambah, tapi  justru semakin berkurang.

Sebagai rakyat yang (katanya) punya pemimpin, rakyat sering bertanya dimana dan bagaimana pemimpinnya berada dan berbuat mengatasi masalah rakyatnya.

Kalau memang sudah berbuat, mana dan kapan kita bisa merasakan pengaruh positifnya ?

Kalau memang tidak bisa berbuat, perintah dan komando apa yang harus rakyat lakukan ?

Rakyat membutuhkan solusi yang konkret dan bukan alasan normatif.

Kalau mau jujur, jadi pemimpin di negeri ini sangatlah gampang dan persyaratannya tidak ribet. Asal bisa menjamin ketersediaan dan keterjangkauan kebutuhan dasar rakyatnya, maka rakyat tidak pernah mau “ngurus” asal-usul, kualitas, kapasitas dan kapabilitas pemimpinnya. Rakyat tidak akan mau tahu, walaupun pemimpinnya “setengah pinter” bahkan “ora pinter” sekalipun “ora diurus”.

Rakyat tidak peduli, Amerika dan China sedang berperang terbuka dalam strategi berjualan produk-produknya. Rakyat “mbideg”, ketika banyak dolar yang ditarik oleh yang punya untuk mem-buy back saham-saham di wall street.

Kita rakyat “ora dunung” dengan alasan-alasan yang begituan.

Yang rakyat kehendaki adalah, beras lombok, gulo, gampang didapat dan bisa dibeli. Ketika anak-anaknya minta uang SPP, iuran sekolah dan tarikan-tarikan lainnya, tinggal “ngodos: dikantong celana kolor bapaknya.

Ketika mereka sakit atau keluarganya ada yang mau melahirkan, mereka tidak ribet mengurus persyaratan di puskesmas dan rumah sakit pemerintah.

Sederhana kan ?

Kalau sudah punya rakyat yang “gampangan,” kenapa harus susah untuk  jadi pemimpin ?

Buat saya dan rakyat, sekarang saatnya pemimpin bekerja cepat untuk menyediakan sandang, pangan dan papan ditambah sarana pendidikan dan kesehatan, yang bisa dijangkau .

Jadi ketika ada ribut-ribut tentang dolar, rakyat tidak mengerti apa itu dolar, yang mereka pahami adalah DOKAR.

Salam Kaji Taufan

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim