Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Warga Tamperan Pacitan Senang Ada Aktifitas Penambangan, Ini Alasannya

Warga Tamperan Pacitan Senang Ada Aktifitas Penambangan, Ini Alasannya

TerasJatim.com, Pacitan – Aktifitas penambangan tanah urug, tak seluruhnya memiliki dampak negatif ataupun mengarah kepada persoalan yang amat serius. Namun, ada juga sisi positifnya, terutama dari manfaat yang dapat dirasakan oleh warga sekitar.

Salah satunya aktifitas penambangan tanah urug yang berada di Tamperan, Kelurahan Sidoharjo, Kabupaten Pacitan, Jatim. Yang diketahui urug tersebut untuk pembuatan pemecah ombak (break water) di Pantai Telengria.

Kepada TerasJatim.com, sejumlah warga setempat mengaku tidak mempersoalkan adanya pengambilan urug di wilayahnya. Bahkan, sebagian warga yang terdampak justru berterima kasih, karena lahan yang telah dikeruk itu dapat ditanami, yang sebelumnya sulit ditanami.

“Dulu lahan saya sebelum diambil batunya tidak bisa ditanami. Sekarang, kalau ditanami misal padi itu sudah bisa. Tapi rencana musim penghujan nanti mau saya tanami pohon sengon,” kata Sujarno, salah satu warga di RT 01, RW 10, Tamperan, Pacitan, Jumat (06/09/19) sore.

Lebih lanjut, pria 64 tahun ini menjelaskan, pada waktu dilakukan pengerukan dan diambil bebatuannya yang ada di lahannya, tanahnya oleh penambang disingkirkan dan tidak ikut diangkut. Kemudian, setelah selesai pengerukan, tanah yang semula disingkirkan itu dikembalikan ke area awal dan diratakan. Sehingga, tanah dapat ditanami.

“Setelah diambil bebatuannya, tanahnya itu dikembalikan dan dirata. Jadi, sekarang bisa ditanami. Dan, adanya penambangan pengerukan tanah ini ada manfaatnya, mulai lahan yang dulunya bisa dibilang tidak berfungsi sekarang dapat difungsikan,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya pun menepis anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa setelah aktifitas penambangan selesai, lahan itu tidak dapat difungsikan, terutama untuk bercocok tanam.

“Tanahnya kan tidak ikut diangkut, hanya bebatuannya yang diambil dan tanahnya dikembalikan ke tempat semula. Jadi, bisa untuk ditanami. Tapi kalau lahannya itu tidak bisa ditanami, mungkin karena tanahnya ikut diangkut,” imbuhnya.

Senada, Katwadi (65) warga lainnya di RT 01, RW 10, Tamperan, Pacitan. Ia mengatakan setelah diambil bebatuannya oleh penambang untuk urug, tanah yang tidak diangkut dikembalikan dan dirata, sehingga lahan dapat difungsikan.

“Lahan saya dulu kan juga kena, setelah itu saya tanami pohon sengon sebanyak 250 batang. Karena baru sekitar satu tahun ya belum begitu besar batangnya. Tapi, aktivitas pengerukan sekitar 3 bulan ini, lahan saya yang kena cuma untuk jalan saja dan itu lahan saya kosong,” ujarnya.

Setelah dilakukan pengerukan tersebut, pihaknya mengaku lebih menyukainya dan tentu berterima kasih. Karena, pada sebelumnya tata letak lahan miliknya kondisinya miring atau tidak rata.

“Kondisinya setelah diambil bebatuannya ini saya lebih suka, yang dulunya agak miring sekarang berundak dan rata. Dulunya kalau saya tanami itu banyak yang tidak hidup, sekarang sebagian besar banyak yang hidup,” ungkapnya. (Git/Kta/Red/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim