Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

“Tunggu” Wajah Baru Kota Malang

“Tunggu” Wajah Baru Kota Malang

TerasJatim.com – Malang. Selama ini dikenal sebagai kota tujuan wisata, baik bagi wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Namun  kenyataannya,yang menjadi tujuan wisata sebenarnya adalah Kota Batu, dengan berbagai terobosan pembangunan spektakulernya yang secara administratif masuk dalam Wilayah Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu).

Untuk itulah, agar Kota Malang tak hanya sebagai bayang bayang dan notabene “numpang beken”, sehingga benar benar menjadi jujugan wisatawan, Pemerintah Kota Malang berencana mempercantik wajah Kota Malang. Belum lama ini, Pemerintah Kota Malang meluncurkan master plan yang telah disusun oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPEDA) Kota Malang.

Walikota Malang, H. Moch. Anton mengatakan bahwa pemerintah Kota Malang telah lama merencanakan hal ini. “Kami memang telah lama merencanakan ini, mengingat kota malang saat ini sudah terlalu crowded. Apalagi kota Malang saat ini menjadi idaman oleh warga kota kota lain untuk ditinggali,” kata Walikota yang akrab disapa Abah Anton ini. Anton juga menambahkan, dengan melakukan perubahan wajah Kota Malang alias face off, otomatis akan meningkatkan perekonomian masyarakat. “Dengan planning ini, kita berharap akan mengundang para investor untuk bisa menanamkan modal mereka di Kota Malang, sehingga bisa meningkatkan perekonomian warga kita,” ujarnya sembari tersenyum.

“Salah satu isu strategis Kota Malang adalah transformasi dari kota besar menjadi kota metropolitan. Untuk itu dibutuhkan manajemen perkotaan dengan tujuan mewujudkan Kota Layak Huni (KLH),” imbuhnya. Indikasi untuk menjadi KLH diantaranya adalah terpenuhinya kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) bagi masyarakat. Padahal, dari kondisi ideal RTH dalam kota yakni 30%, di Kota Malang baru terdapat 19% saja. Oleh karena itu perlu adanya upaya mengubah tata ruang.

Salah satu perubahan mendasar adalah konsep pembuatan gedung parkir yang terpusat di Alun Alun Mall, dan menjadi kawasan food court, dan di sejumlah jalan ada pelebaran pedestrian. Sementara kawasan Pasar Besar pada 2016 mendatang, akan disulap menjadi city walk (area yang ramah bagi pejalan kaki). Di kawasan Pasar Burung Splendid juga akan dibangun eco park, di pinggir DAS Brantas. “Infrastruktur saat ini masih kurang. Jalan, taman, fasilitas umum masih itu itu saja. Bukan tidak mungkin, 10 hingga 20 tahun ke depan permasalahan ruang menjadi kronis. Sehingga dibutuhkan master plan agar pembangunan jangka panjang dapat dimulai dari sekarang,” sambung Anton.

Sebagian titik memang akan dimulai September ini. Hanya saja pemkot butuh bantuan masyarakat. Untuk dana, Anton mengaku ada tiga kemungkinan. Yakni APBN (anggaran pendapatan belanja negara), APBD (anggaran pendapatan belanja daerah), atau menggandeng pihak ketiga. Namun dia mengaku akan lebih mengupayakan kerjasama dengan investor atau pihak ketiga untuk mewujudkan perubahan perubahan tersebut. “Pembangunan tidak akan bisa maksimal kalau hanya mengandalkan dana APBD atau APBN saja, sehingga kepala daerah harus punya gagasan dengan menggandeng pihak ketiga, seperti melibatkan perusahaan melalui dana CSR,” pungkasnya.

Dalam Master plan yang diluncurkan beberapa waktu yang lalu itu, ada delapan titik yang akan disulap menjadi kawasan setara kota metropolitan. Yakni koridor Kayutangan, yang meliputi Jl Basuki Rahmat dan Alun Alun Malang. Koridor Kertanegara yang meliputi Alun Alun Tugu dan Jl Kahuripan. Koridor Semeru meliputi Jl. Semeru dan Stadion Gajayana. Koridor Pasar Besar meliputi Pecinan dan Jl. Kauman. Koridor Ijen meliputi Jl. Ijen, Simpan Balapan dan Jl. Veteran. Koridor Mayjen Sungkono meliputi Sepanjang Jl. Ki Ageng Gribig ke selatan. Selain itu juga ada jalan tembus koridor Tlogomas-Sudimoro hingga Karanglo. (Dim/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim