Terkait Data DBD, Pemkab dan RSUD Jombang Dituding Tidak Transparan

Terkait Data DBD, Pemkab dan RSUD Jombang Dituding Tidak Transparan
Sebagian pasien DBD menjalani perawatan di Paviliun Ashoka RSUD Jombang Jawa Timur

TerasJatim.com, Jombang – Data warga Jombang yang terkena serangan nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dirilis oleh Pemerintah Kabupaten Jombang Jawa Timur, sepanjang Januari tahun ini dinilai tidak sesuai fakta.

Demikian dilontarkan Aan Anshori, Direktur Lingkar Indonesia untuk Keadilan (LINK). Menurut Aan, penyajian data korban DBD oleh Dinas Kesehatan dan RSUD Jombang diyakininya terdapat banyak kejanggalan.

Salah satunya, papar aktifis pro demokrasi dan kebijakan publik ini, adanya upaya penghalangan wartawan untuk melakukan peliputan terkait perkembangan kasus DBD di RSUD Jombang, Selasa (19/1/2016) lalu. “Saya menduga, penghalangan yang dapat dipidana ini tidak lepas dari keinginan RSUD menyembunyikan fakta sebenarnya menyangkut jumlah korban DBD di Kabupaten Jombang,” kata Aan Anshori.

Kejanggalan berikutnya, jelas Aan, adanya selisih data antara data yang dirilis Dinas Kesehatan dan RSUD Jombang dengan temuan di lapangan. “Informasi yang saya terima, saat ini ada lebih dari 100-an kasus dengan 6 kematian, namun hal ini belum diakui oleh RSUD,” ujarnya.

Sebagaimana yang pernah diberitakan di TerasJatim.com, pada Senin (18/1/2016),, Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang melansir jumlah kasus Demam Berdarah sepanjang 1 – 17 Januari sebanyak 96 kasus dengan jumlah korban meninggal 4 orang.

Sementara, pada Selasa (19/1/2016) siang, Direktur RSUD Jombang, dr. Puji Umbaran, juga menyampaikan data yang sama, yakni 96 kasus dengan 4 angka kematian.

Aan Anshori menambahkan, kecurigaannya terhadap penyajian data korban DBD yang tidak transparan juga berangkat dari pengalaman tahun 2015 lalu. “Perlu diingat, bukan kali ini saja RSUD maupun Dinkes terindikasi culas dalam urusan data DBD,” Pada awal tahun lalu, data korban DBD selama 1 Januari – 23 Februari 2015 terdapat 231 kasus DBD dengan 4 meninggal. Namun, data kematian akibat DBD tidak bertambah meski di lapangan ditemukan sejumlah orang yang meninggal akibat DBD.

“Yang mencengangkan, kematian Yolanda 9 tahun asal Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung tidak diakui sebagai korban. Padahal putri ketiga pasangan Suyono-Marti yang meninggal dunia pada 18 Februari 2015 pukul 04.00 WIB ini meninggal karena DBD,” sesal Aan Anshori.

Terkait perkembangan kasus DBD, Aan Anshori meminta agar Pemkab Jombang dalam hali ini Dinas Kesehatan dan RSUD Jombang, lebih transparan dalam penyajian data. “Saya meyakini jumlah korban DBD kala itu jauh lebih banyak. Begitu juga pada tahun ini,” pungkas Aan.

Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun TerasJatim.com, data jumlah kasus Demam Berdarah di Jombang  mengalami peningkatan. Jumlah korban DBD yang menjalani perawatan di RSUD Jombang sejak 1 hingga 20 Januari 2016, sebanyak 108 orang. Jumlah korban meninggal dunia sebanyak 4 orang.

“Data pasien DBD yang kami laporkan ke Dinkes pada Selasa (19/1/2016) siang, jam 2, 100 orang. Hari ini ada laporan tambahan pasien terkena DBD sebanyak 8 orang. Jadi jumlahnya 108 orang, yang meninggal masih sama 4 orang,” ungkap Direktur RSUD Jombang, dr. Puji Umbaran. (MSi/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim