Selamat Datang Banjir, Selamat Datang ‘Tembaru Cina’

Selamat Datang Banjir, Selamat Datang ‘Tembaru Cina’
Foto: Genangan banjir bengawan solo di persawahan perbatasan Bojonegoro-Lamongan

TerasJatim.com, Bojonegoro – Selamat datang banjir, mungkin itu kalimat yang lumayan tepat digumamkan warga Kabupaten Bojonegoro Jatim, utamanya yang bermukim di sepanjang tepian Sungai Bengawan Solo.

Sejak kemarin, air bengawan nampak mulai meluber hingga ke persawahan warga. Ada juga tanggul sungai avur yang jebol juga memuntahkan luapan air yang menyebabkan rusaknya hektaran lahan pertanian warga.

Sebagai daerah perlintasan Bengawan Solo, masyarakat Bojonegoro secara umum tak begitu kaget dengan terjadinya banjir. Karenanya, masyarakat sering abai dengan pengumuman pihak terkait semisal BPBD dan BMKG..

Beberapa pekan belakangan ini, sebagian besar petani di kawasan tepi Bengawan Solo tengah disibukkan dengan aktivitas tanam padi. Tentu saja dengan biaya tak sedikit, bisa jadi adalah hasil hutangan.

Persemaian benih, biaya tandur (tanam), mengolah laham, pupuk dan obat-obat semua pakai modal. Nah, jika padinya yang baru saja ditandur langsung terendam banjir beberapa hari, maka bisa dipastikan akan busuk dan mati. Berarti modal tak kembali dan berpotensi ‘ngutang’ lagi.

Tak hanya lahan pertanian, sejumlah infrastruktur bangunan dan jalan serta TPT juga akan terdampak bahkan bisa rusak akibat luapan banjir. Apalagi jika kualitas garapannya tak sesuai spesifikasi akibat diakali para penyedia jasa atau timlak-nya.

Penghujung tahun seperti saat ini, intensitas hujan diprediksi akan sangat tinggi. Dahulu para orang tua mengatakan bahwa curah hujan tinggi di ujung tahun seperti ini merupakan tanda sudah dekat dengan perayaan ‘Tembaru Cina’.

Tembaru, sejatinya adalah pelafalan kata tahun baru. Sedangkan tambahan kata Cina, sama sekali tidak dimaksudkan menyinggung soal SARA, melainkan sebagai keterangan bahwa jaman dulu yang biasa merayakan tahun baru rata-rata kalangan keturunan Cina.

Kembali ke luapan air Bengawan Solo, pada dasarnya rakyat Bojonegoro terutama yang bermukim di tepian sungai terpanjang di Pulau Jawa ini adalah pribadi yang sakti (baca: handal dan survive).

Konon saat datang banjir pada masa lampau, orang-orang tepi Bengawan Solo bisa berminggu-minggu berdiam diri sambil menjaga harta di tempat tinggalnya. Untuk menghemat bahan pangan, biasanya mereka sambil tirakat. Ada yang puasa mutih hingga ngrowot.

Mutih adalah puasa yang ketika buka hanya makan nasi tanpa bumbu dan lauk. Sementara Ngrowot adalah puasa yang saat berbuka hanya makan pala pendem hingga bonggol pisang. Maka tak heran jika jaman dulu banyak orang linuwih di tepian Bengawan Solo.

Sekali lagi, selamat datang banjir, selamat datang wahai tembaru Cina. Semoga tidak ada bencana alam yang menelan korban jiwa di telatah Angling Dharma ini.

Tetap semangat dan waspada untuk pihak pemerintah demi keselamatan warga.

Saiq, Kabiro TerasJatim.com Bojonegoro

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim