Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Saat Beringin Dipimpin Sosok Setya Novanto

Saat Beringin Dipimpin Sosok Setya Novanto
Ade Komarudin dan Setya Novanto, seusai ditetapkan sebagai ketua umum Golkar di arena Munaslub Golkar, di Bali Nusa Dua Convention Center, Selasa (17/05)

TerasJatim.com – Setya Novanto akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar untuk periode 2014-2019 di Nusa Dua, Bali, Selasa (17/05) pagi. Setelah dalam putaran kedua, saingan terdekatnya Ade Komarudin, resmi mengundurkan diri dari pencalonan ketua umum Golkar.

Siapapun di negeri ini, hampir pasti mengenal sosok Novanto sebagai politisi yang terbilang penuh kontroversial ini.

Banyak pro dan kontra yang mengiringi perjalanan Novanto hingga dia menduduki kursi pemimpin di partai beringin itu.

Kontroversi ini tak lepas dari jejak rekam Novanto yang sering ‘terserempet’ dengan banyak masalah. Termasuk persoalan etika hingga hukum mewarnai perjalanan karier Novanto di dunia politik.

Meski demikian, hingga kini Novanto belum pernah dinyatakan bersalah oleh pengadilan dalam kasus hukum apa pun yang sempat menyeret-nyeret namanya. Itulah kemudian banyak yang menyebutnya sebagai “The Untouchable”.

Kontroversi Setya Novanto yang paling menyita perhatian adalah kasus “Papa Minta Saham” atau pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden saat meminta jatah saham PT Freeport Indonesia kepada salah satu petinggi Freeport.

Bersama pengusaha minyak Reza Chalid, yang hingga kini entah dimana keberadaannya, kasus ini telah membuat marah Presiden Joko Widodo dan publik mengetahuinya secara jelas lewat media bagaimana murkanya seorang  Jokowi.

Setya Novanto juga sering bolak-balik ke Kejaksaan Agung terkait kasus cassei bank Bali dan kasus papa minta saham. Dia juga sempat terlihat sering menyambangi  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk diperiksa sebagai saksi karena namanya disebut Nazarudin dalam berbagai kasus korupsi, seperti korupsi e-KTP, suap Ketua MK Akil Mochtar, hingga kasus PON Riau.

Tak hanya itu, Novanto juga sempat membuat heboh publik tatkala hadir dalam kampanye bakal calon presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump. Di situ tampak dia berjabat tangan dan diperkenalkan Trump sebagai orang yang berkuasa di negeri ini.

Kontroversi seputar Novanto bahkan mencuat dalam ajang Munaslub Golkar yang digelar di Nusa Dua Bali pada 15 hingga 17 Mei 2016 ini.  Sejak awal Munaslub digelar terdapat wacana pemilihan ketua umum yang akan digiring ke arah aklamasi melalui sistem pemilihan secara terbuka.

Bahkan, Setya Novnto harus ‘dikeroyok’ dan berhadapan dengan tujuh bakal calon ketua umum lainnya yang menolak pemilihan ketua umum dilakukan secara terbuka.  Upaya penggiringan yang disebut untuk menguntungkan Novanto.

Kontroversi lainnya yaitu terkait pertemuan antara Novanto dengan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan. Meskipun Luhut menyebut ada pertemuan, namun Novanto menyangkalnya.

Nah, ketika saat ini Novanto telah resmi sebagai nahkoda partai Golkar, saya yakin banyak nada berlainan yang berseliweran untuk mengomentarinya.

Buat kita, apapun stigma tentang Setya Novanto, nyatanya dia kini adalah Ketua Umum Partai Golkar.

Selamat, semoga bermanfaat bagi rakyat Indonesia.

(Redaksi dari berbagai sumber)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim