Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Puluhan Siswa dan Guru SMA di Jatim, Jelajahi Sejarah Klasik Hutan Saradan

Puluhan Siswa dan Guru SMA di Jatim, Jelajahi Sejarah Klasik Hutan Saradan

TerasJatim.com, Madiun – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim mengajak puluhan siswa SMA dan guru untuk mengikuti Jelajah Sejarah Klasik Jawa Timur di wilayah Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Saradan.

Lokasi yang menjadi tujuan jelajah itu adalah Situs Mangiran yang berada di petak 19d Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Pepe Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Petung.

Sebanyak 80 orang peserta yang terdiri dari 17 Guru Sejarah dan 53 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Jatim itu dipimpin oleh Kepala Seksi Pembinaan Sejarah Lokal Bidang Cagar Budaya dan Sejarah Disbudpar Jatim, Made Ariawan.

Menurut Made Ariawan, kegiatan ini dilakukan untuk mengenalkan sejarah. “Kita kenalkan kepada peserta akan peradaban, budaya serta peninggalan sejarah nenek moyang kita masa lalu baik yang berupa situs atau cagar budaya yang harus kita jaga kelestariannya,” ujarnya.

Sementara Administratur Perhutani KPH Saradan Noor Rochman mengatakan, pihaknya mengapresiasi kegiatan tersebut, karena menambah pengetahuan mengenai sejarah. Ia juga menjelaskan mengenai salah satu cagar budaya yang ada di wilayah hutan KPH Saradan, yakni Situs Sangiran.

“Situs Sangiran yang yang berada di kawasan hutan Perhutani Saradan ini diyakini merupakan bekas petilasan Ki Ageng Mangir I yang merupakan Kakek Buyut dari Ki Ageng Mangir IV pada masa kerajaan Mataram pada abad ke-XVI,” urainya, Kamis (01/08/19).

Di Situs Mangiran ini, sambung dia, selain terdapat bekas petilasan, juga terdapat Pendopo Watu Gilang yang lokasinya tidak jauh. Selain itu, terdapat Sendang Mangir dan Makam Syech Ismail yang ditemukan tahun 2006. yang diyakini sebagai ulama dari kerajaan Mataram abad ke 17 M.

“Hingga saat ini lokasi tersebut masih sering digunakan sebagai tempat ritual dan tempat ziarah,” terang Noor Rochman.

Untuk menjaga agar tempat tersebut dapat terjaga dengan baik, Noor Rochman berencana untuk menjadikan tempat tersebut sebagai obyek wisata religi dan budaya rintisan yang akan di kerjasamakan dengan masyarakat sekitar hutan yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). (Jnr/Kta/Red/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim