Nyoblos di Pacitan, SBY Ajak Jaga Reputasi Indonesia Sebagai Negara Demokrasi

Nyoblos di Pacitan, SBY Ajak Jaga Reputasi Indonesia Sebagai Negara Demokrasi

Terasjatim.com, Pacitan – “Assalamualaikum,” begitu ucap Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden RI Ke-6, menyapa warga yang datang lebih awal di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 16, RT 05, RW 07, TK Taman Indria, Lingkungan Ngampel, Kelurahan Ploso, Kabupaten Pacitan, Jatim.

Sembari menunjukkan KTP yang beralamatkan di Kelurahan Ploso, SBY yang datang bersama putra bungsunya, Edhie Baskoro Yudhoyono dan istri Siti Ruby Aliya Rajasa, disambut hangat oleh warga yang berjajar ingin melihat sekaligus menyapa dari dekat sosok Presiden RI Ke-6.

Segurat senyum SBY dengan garis-garis tegas di wajah, terus menemani setiap langkahnya di area TPS 16, hingga mengikuti serangkaian proses pemungutan suara: pendaftaran, pembagian kartu suara, proses di bilik suara, hingga menyematkan tinta di ujung jari.

“Dulu remaja KTP saya Ploso, sekarang (KTP) kembali lagi ke Ploso,” kata SBY, saat berbincang dengan anggota KPPS TPS 16, usai mencoblos, Rabu (14/02/2024).

Duduk sejenak dan kembali menyapa warga, usai menunaikan hak suaranya pada Pemilu 2024 di kampung halaman, sesekali SBY menoleh ke arah Selatan. Di sana, tampak berdiri bangunan megah nian gagah menghadap Utara, Museum & Galeri SBY*ANI.

Bangunan itu terlihat begitu jelas dari TPS 16, yang hanya tersekat area persawahan dengan jarak pandang sekitar 150-200 meter. SBY, Ibas, Aliya, nampak kagum melihat pemandangan yang ada dihadapan sepasang mata mereka.

“Kali ini saya mencoblos di kampung halaman. Waktu saya remaja tinggal di Ploso, karena sekarang ini dengan dibangunnya museum, saya mondar mandir Jakarta-Pacitan, maka saya niati untuk pemilu ini saya mencoblos di Pacitan,” terang SBY, saat doorstop dengan sejumlah wartawan.

Di satu sisi, SBY mengungkapkan, setiap berlangsungnya Pemilihan Presiden di era reformasi dan demokratisasi di Indonesia ini, bahwa kontestasi diakuinya cukup keras dan panas. Namun demikian, pihaknya masih yakin kepada para elit, pasangan capres cawapres, dan para partai politik, akan bisa menjaga demokrasi tetap tegak, dan pemilu berlangsung jujur, adil serta damai.

“Mudah-mudahan, sejarah yang tengah kita ukir di Indonesia ini adalah sejarah yang indah. Saya masih percaya dengan kebesaran Tuhan, pada sikap dan pikiran rakyat Indonesia, yang ingin segala sesuatunya berlangsung dengan baik,” ungkapnya.

Sebagai pelaku pemilihan umum mulai 2004, 2009, 2014, 2019, dan 2024, SBY acap mengamati yang terjadi di ruang publik, seperti percakapan siang dan malam di media sosial, yang menurutnya begitu hangat, dinamis, dan terkadang menimbulkan ketegangan besar.

“Saya berharap segala sesuatunya tetap kita jaga. Saya kira semua setuju. Saya secara pribadi setuju, pemilihan umum termasuk Pemilihan Presiden harus betul-betul berlangsung jujur dan adil. Dan itu mahal harganya,” ujarnya.

Indonesia, imbuh SBY, punya reputasi sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India, Amerika Serikat, dari segi jumlah penduduk. “Karena dunia sudah memberi letak yang baik pada Indonesia, mari kita jaga reputasi kita sebagai negara demokrasi,” tukasnya. (Git/Kta/Red/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim