Natal Dan Toleransi Muslim Indonesia

Natal Dan Toleransi Muslim Indonesia
ilustrasi

TerasJatim.com – Disadari atau tidak, kultur bangsa ini adalah bangsa yang benar-benar penuh dengan keaneka ragaman. Di Indonesia, semua agama mempunyai hari libur nasionalnya untuk perayaan hari raya mereka, termasuk untuk hari raya bagi pemeluk agama yang minoritas sekalipun. Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Alm. Gus Dur, bahwa Indonesia ada karena keberagaman.

25 Desember besuk, saudara-saudara kita yang Kristiani akan merayakan Hari Natal. Sebagaimana pengalaman di tahun-tahun lalu, menjelang Natal dan pergantian tahun, issu yang hangat dibicarakan secara nasional adalah tentang gangguan keamanan yang berbentuk upaya kekerasan yang bersifat teror.

Pemerintah dalam hal ini aparat keamanan, hari-hari belakangan terlihat sedang sibuk-sibuknya untuk menjaga stabilitas keamanan di masing-masing wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Sebab kita semua tahu, bahwa masa-masa seperti inilah tingkat kerawanan gangguan keamanan berpotensi muncul.

Dalam sebuah kesempatan baru-baru ini, Presiden Joko Widodo meminta masyarakat dan umat Kristiani di tanah air dalam merayakan Natal dan Tahun Baru-nya, tidak dengan sebuah perayaan yang berlebihan. Kondisi ini disadari betul dalam memberikan rasa aman bagi siapa saja di negeri ini.

Semua berharap rakyat senantiasa merasa aman, umat Kristiani yang sedang merayakan Natal merasa nyaman, yang merayakan pergantian tahun merasa tenang, sehingga tercipta sebuah rasa ketentraman bersama.

Hampir di setiap daerah, terlihat peningkatan keamanan dengan menambah jumlah personel pengamanan yang turun langsung ke tempat-tempat publik. Hal ini patut diapresiasi bahwa pemerintah berupaya memberi rasa damai bagi rakyatnya.

Pengamanan bukan hanya mengandalkan TNI dan Polri semata, tetapi juga meminta masyarakat Muslim dan lainnya untuk turut berpartisipasi aktif. Sebab disadari atau tidak, kadang potensi ancaman dalam setiap perayaan Natal dan tahun baru, bukan saja untuk mengeleminir kejahatan biasa, namun juga adanya potensi serangan terorisme yang senantiasa mengatas namakan untuk sebuah misi agama tertentu.

Kita melihat bahwa pemerintah juga terus berupaya dan mengutamakan pendekatan preventif pencegahan dibandingkan dengan pendekatan kekerasan. Selama ini, kasus kekerasan terorisme yang terjadi di tanah air, biasanya dilakukan oleh mereka yang dianggap punya paham radikal. Upaya pencegahan paham radikalisme, tidak bisa hanya diselesaikan dengan kekuatan keamanan, tapi juga perlu pendekatan kultural, keagamaan, pendidikan dan kesejahteraan yang di dalamnya juga harus ada peran aktif dari kita semua.

Islam mengajarkan sikap toleransi antar sesama dan antar umat beragama. Sebagai agama yang mayoritas, tidak ada salahnya jika semua umat Muslim bersikap lebih dewasa dalam hal toleransi dan menghormati siapapun yang merayakan kultur keyakinan di agamanya, walaupun pada dasarnya mereka adalah kaum minoritas.

Toleransi, berarti kita memberikan ruang bagi umat lain untuk menjalankan ritual agamanya, termasuk perayaan agamanya dengan perasaan yang aman dan tentram.

Banyak tokoh dunia menyebut, tidak ada negara di dunia saat ini yang paling toleran dibandingkan dengan Indonesia. Kaum minoritas non-Muslim di negeri ini mendapat kenyamanan untuk menjalani seluruh ritual agamanya.

Begitu tolerannya Muslim dan kita semua di Indonesia, orang-orang non-Muslim pun bisa menduduki jabatan publik dan politik yang penting di negeri ini, tanpa kita harus bertanya asal-usul dan apa agamanya.

Toleransi memberikan ruang dan akses yang luas bagi seluruh agama untuk memberikan aktualisasi diri mereka, bahwa beragama adalah untuk sebuah kebaikan.

Kita berharap Natal dan tahun baru kali ini, semua memahami pentingnya keamanan, kenyamanan dan ketentraman bagi Republik ini.

Selamat Natal untuk saudaraku yang merayakannya.

Salam Kaji Taufan

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim