Mengurai Benang Kusut Kemiskinan Bojonegoro yang Berkelindan dengan Program Bupati Setyo Wahono

TerasJatim.com, Bojonegoro – Kabupaten Bojonegoro, Jatim, dengan paradoks antara lumbung energi dan kantong kemiskinan, memerlukan penanganan yang lebih terfokus. Di satu sisi, desa-desa kaya minyak menyumbang signifikan bagi pendapatan daerah yang dikenal sebagai Telatah Angling Dharma ini.
Di sisi lain, angka kemiskinan masih menghantui sebagian besar warganya. Program kerja Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah menjadi krusial, terutama di desa-desa yang menyimpan potensi ekonomi besar.
Data dan Fakta yang Mencengangkan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, angka kemiskinan di Bojonegoro mencapai 11,98%, masih di atas rata-rata Provinsi Jatim (10,49%). Ironisnya, Kecamatan Kedewan dan Padangan, yang merupakan pusat eksplorasi minyak, memiliki tingkat kemiskinan masing-masing sebesar 13,5% dan 12,8%.
Hal ini mengindikasikan, bahwa kekayaan alam belum sepenuhnya mampu meneteskan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.
Program Kerja yang Menjanjikan Harapan.
Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah pada awal pemerintahannya telah mencanangkan beberapa program yang boleh dibilang strategis untuk mengatasi masalah ini, dengan target dan indikator yang jelas, yakni;
1. Peningkatan Kualitas SDM:
Target: Melatih 5.000 tenaga kerja lokal di bidang perminyakan dan gas dalam 3 tahun.
Indikator: Peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal di perusahaan migas sebesar 20% pada tahun 2027.
Program: Pelatihan vokasi bersertifikasi, beasiswa pendidikan tinggi untuk jurusan teknik perminyakan, dan kerjasama dengan Politeknik Migas.
2. Pengembangan UMKM:
Target: Meningkatkan jumlah UMKM yang memiliki akses ke permodalan sebesar 30% pada tahun 2026.
Indikator: Pertumbuhan omzet UMKM di desa-desa kaya minyak sebesar 15% per tahun.
Program: Kredit usaha ringan dengan bunga rendah, pelatihan manajemen keuangan dan pemasaran online, serta fasilitasi kerjasama dengan perusahaan retail modern.
3. Infrastruktur yang Merata:
Target: Membangun dan memperbaiki 100 km jalan desa dan 20 jembatan penghubung antar desa pada tahun 2028.
Indikator: Penurunan biaya transportasi barang dan jasa sebesar 10% di desa-desa yang infrastrukturnya ditingkatkan.
Program: Pembangunan jalan aspal, perbaikan jembatan gantung, dan penyediaan transportasi umum yang terjangkau.
4. Sinergi dengan Perusahaan Migas:
Target: Meningkatkan kontribusi CSR perusahaan migas untuk program pemberdayaan masyarakat sebesar 25% pada tahun 2027.
Indikator: Peningkatan indeks kepuasan masyarakat terhadap program CSR perusahaan migas sebesar 20%.
Program: Forum koordinasi CSR yang melibatkan pemerintah daerah, perusahaan migas, tokoh masyarakat, dan perwakilan LSM.
Lalu adakah strategi mengatasi kemiskinan yang lebih efektif…? (Bersambung Bag. 2)
*Saiq/Red-dari pengamat untuk TerasJatim


