Mengenang Gerak Jalan Legendaris, Mojokerto-Suroboyo

Mengenang Gerak Jalan Legendaris, Mojokerto-Suroboyo
Doc : LensaIndonesia.com 2014

TerasJatim.com – Tahun ini, untuk memperingati Hari Pahlawan 10 Nopember, Pemprov Jatim  dikabarkan akan kembali menyelenggarakan Gerak Jalan Tradisional Perjuangan Mojokerto-Surabaya. Rencananya, kegiatan rutin tahunan ini, akan dilaksanaan  pada tanggal 21 Nopember 2015.

Sebagian besar masyarakat Surabaya menganggap, bahwa tradisi ini merupakan tontonan yang bisa membangkitkan semangat patriot dan heroisme. Pasalnya, gerak jalan ini diadakan untuk mengenang kembali perjuangan di masa persiapan sebelum meletusnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Rute gerak jalan Mojokerto-Surabaya diyakini sebagai salah satu bagian dari  “jalan napak tilas,” yang dilalui oleh para pejuang-pejuang kita di masa lalu.

Banyak ditulis, bahwa sejarah pelaksanaan gerak jalan ini di awali pada tahun 1955 hingga 1958, dengan rute Surabaya-Pandaan. Hal ini dimaksudkan untuk mengenang pertahanan sektor selatan Kali Brantas yang dikenal sebagai Batalyon Cipto dan Abdulah.

Kemudian pada tahun 1959 hingga 1964, rute dialihkan ke Mojokerto-Surabaya untuk mengenang sektor barat yang dikenal sebagai pertahanan Batalyon Laskar Hisbullah, Tentara Pelajar, Polisi Istimewa, Batalyon Mansyur, Sholikin dan Munasir, serta Djarot Subiantoro, yang dikenang sekarang dengan monumen Mayangkara di jalan layang Mayangkara Wonokromo.

Namun sejarah perjalanan gerak jalan ini mengalami hambatan ketika terjadi pemberontakan G-30-S PKI tahun 1965 lalu. Selama 2 tahun, acara ini terhenti dan baru pada tahun 1968 hingga 1996 kegiatan ini dihadirkan kembali.

Acara yang digemari masyarakat dari berbagai kalangan  ini, sempat dihentikan mulai tahun 1997 hingga 2005, karena alasan politik di dalam negeri yang saat itu dianggap sedang labil.

Berbicara soal gerak jalan Mojokerto-Surabaya, secara  pribadi, kegiatan ini membawa kesan tersendiri buat saya. Betapa tidak, saat masih jaman ‘muda’ dulu, saya sering ikut terlibat dalam kegiatan ini. Entah itu sebagai peserta, suporter atau saat saya masih aktif sebagai seorang reporter yang selalu kebagian tugas meliput kegiatan ini. Hampir 6 tahun berturut-turut, saya selalu dekat dan bergaul dengan tradisi ini.

Perhelatan tahunan yang menempuh jarak kurang lebih 55 kilometer ini, di jaman saya dulu, merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarakat Surabaya.

Biasanya, dari pagi, siang hingga larut malam, kesibukan dan antusias masyarakat di sepanjang jalan utama Mojokerto-Surabaya, tampak semarak. Sebab, lomba gerak jalan ini dilepas dari Alun-alun Kota Mojokerto pada saat habis Dhuhur menjelang Ashar. Dan baru selepas  Isya’ para peserta gerak jalan ini sudah mulai terlihat memasuki gerbang kota Surabaya.

Dari arah Krian, Sepanjang, Rolak Gunungsari, Hayam Wuruk, Ciliwung, Diponegoro, hingga finish di Tugu Pahlawan, masyarakat Surabaya antusias datang berderet di pinggir jalan hingga sampai larut malam.

Saya mengikuti kegiatan rutin tahunan ini, sejak tahun 1990 hingga 1996. Karena alasan pekerjaan dan merasa sudah mulai ‘tua’,  tahun 1996 adalah tahun terakhir keikutsertaan saya dari dunia yang sering bikin kaki saya lecet-lecet itu.

Kabarnya, untuk pelaksanaan gerak jalan legendaris tersebut, panitia tahun ini menyiapkan hadiah total senilai lebih dari 100 juta rupiah plus ratusan hadiah hiburan lainya.

Tentu hal ini bisa menjadi penyemangat bagi siapa saja yang tahun ini ingin ikut merasakan sensasi rute perjuangan di jaman kemerdekaan dulu.

Selamat dan sukses untuk semua peserta Gerak Jalan Mojokerto-Surabaya… Merdeka !

Salam Kaji Taufan

(kajitaufan@terasjatim.com)

Baca juga: http://www.terasjatim.com/digelar-1-2-desember-gerak-jalan-mojokerto-surabaya-diikuti-10-ribu-peserta/

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim