Liku Sejarah Raja Mataram Jogjakarta HB X

TerasJatim.com – Raja Ngayogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwana (HB) X, terlahir dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Herjuno Darpito pada tanggal 2 April 1946 di Yogyakarta, Beliau adalah putra sulung (alm) Sri Sultan Hamengkubuwana IX dari garwa KRAy Windyoningroem .
Jenjang pendidikan BRM Herjuno Darpito menyelesaikan pendidikan SD di SD Keputran I, SMP di SMP Negeri I, SMA di SMA Negeri 3 dan lulus S1 Fakultas Hukum Jurusan Ketatanegaraan Universitas Gadjah Mada.
Setelah dewasa beliau ditunjuk oleh ayahandanya sebagai Pangeran Lurah atau yang dituakan diantara semua pangeran di Keraton Yogyakarta, kemudian diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Mangkubumi pada tanggal 18 Mei 1974
Sebelum bertahta sebagai Sultan Yogyakarta, KGPH Mangkubumi sudah terbiasa dengan pelbagai urusan di pemerintahan. Beliau sering diminta membantu tugas-tugas ayahandanya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.
Syahdan, pada tanggal 2 Oktober 1988 Sri Sultan Hamengku Buwono IX wafat. KGPH Mangkubumi kemudian menjadi calon paling tepat untuk menjadi Sultan berikutnya. Proses suksesi ini menjadi hal yang baru dalam sejarah Keraton Yogyakarta.
Sesaat sebelum dinobatkan, KGPH Mangkubumi mendapat gelar Kanjeng Gusti Pangeran Arya Adipati Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram yang bermakna sebagai putera mahkota.
Nah, baru kemudian secara sah beliau dinobatkan menjadi Sultan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tanggal 7 Maret 1989 atau Hari Selasa Wage, tanggal 29 Rajab 1921 berdasarkan penanggalan Tahun Jawa.
Sebagai Sultan atau Raja, maka ia mendapat gelar formal, yakni ‘Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa’. Yang masih berkuasa hingga saat ini.
Diketahui khalayak, pada tahun 1968, Sultan HB X menikah dengan R Tatik Drajad Suprihastuti, ketika Sang suami diangkat sebagai Pangeran Lurah, sang istri memperoleh nama gelar baru Bandara Raden Ayu Mangkubumi.
Sesuai aturan keraton, ketika Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Sultan, BRAy Mangkubumi diangkat sebagai Garwa Permaisuri dengan gelar Gusti Kangjeng Ratu Hemas.
Dari pernikahan penguasa Mataram Islam Ngayogyakarta ini menurunkan sejumlah puteri, antara lain;
1. GRAj Nurmalita Sari/GKR Pembayun/GKR Mangkubumi
2. GRAj Nurmagupita/GKR Condrokirono
3. GRAj Nurkamnari Dewi/GKR Maduretno
4. GRAj Nurabra Juwita/GKR Hayu
5. GRAj Nurastuti Wijareni/GKR Bendara
(Saiq/Red/TJ-Jejak sejarah Mataram)


