Lantunan Asmaul Husna Iringi Langkah Peserta Napak Tilas Isyarah Pendirian NU

Lantunan Asmaul Husna Iringi Langkah Peserta Napak Tilas Isyarah Pendirian NU

TerasJatim.com, Jombang – Napak tilas petunjuk pendirian Nahdlatul Ulama (NU) dari pelataran Pondok Pesantren (Ponpes) Syaichona Cholil, Bangkalan Madura, telah sampai di Jombang. Dari Kota Santri ini, ribuan jemaah Nadliyin melanjutkan berjalan kaki sejauh 6 KM menuju Pondok Pesantren Tebuireng untuk menyerahkan tongkat dan tasbih sebagai simbol restu berdirinya NU.

Kegiatan Napak Tilas Isyarah pendirian NU secara resmi dilepas oleh Bupati Jombang Warsubi di Pendopo Kabupaten Jombang, tepat pada pukul 20:00 WIB. Proses pelepasan berlangsung khidmat dengan diawali doa yang dipimpin oleh KH Masduki dari Perak. Dengan doa tersebut diharapkan agar seluruh rangkaian perjalanan menuju Ponpes Tebuireng diberi keselamatan serta membawa keberkahan bagi umat dan bangsa.

Ribuan peserta yang menempuh jarak 6 KM dengan berjalan kaki di tengah guyuran hujan tersebut tidak menyurutkan semangat untuk mengikuti Napak Tilas Isyarah pendirian NU dengan melantukan Asmaul Husna Ya Jabbar, Ya Qahhar (Wahai Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Menundukan) menuju Ponpes Tebuireng, di Desa Cukir, Diwek.

Sesampainya di lokasi sekitar pukul 21.30 WIB, rombongan inti yang dipimpin Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, KH Raden Ahmad Azaim Ibrahimy (Dzuriyah KH As’ad Syamsul Arifin), langsung menuju Ndalem Kasepuhan Ponpes Tebuireng.

Di sini, KH Azaim Ibrahimi menyerahkan tongkat dan tasbih yang dibawanya dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan kepada cicit Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, yakni KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Tongkat dan tasbih ini konon merupakan simbol restu dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy’ari untuk mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Penyerahan tongkat dan tasbih ini berlangsung khidmat dan penuh haru. Selanjutnya, rombongan napak tilas menuju ke makam KH Hasyim Asy’ari di komplek makam Masyayikh Ponpes Tebuireng untuk berziarah dan doa bersama.

“Napak tilas isyarat berdirinya NU ini sangat baik untuk mengenang kembali sejarah perjalanan NU yang kini sudah 1 abad,” terang Gus Kikin, Minggu (04/01/2026).

Menurutnya, di usia yang telah menginjak satu abad ini NU harus bisa mengikuti perubahan zaman. Sehingga ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah bisa menaungi kebutuhan jam’iyyah.

“Pesan-pesan dari para muasis pendiri NU, banyak perubahan-perubahan zaman yang harus kita sesuaikan sehingga NU tetap menjadi satu wadah menaungi semua umat islam,” tandasnya. (Abu/Kta/Red/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim