Ipda Purnomo Polisi Lamongan Jemput ODGJ di Pacitan

Ipda Purnomo Polisi Lamongan Jemput ODGJ di Pacitan
Ket foto: Ipda Purnomo saat di Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar, Pacitan

TerasJatim.com, Pacitan – Empat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Pacitan, dijemput Ipda Purnomo, anggota polisi dari Polres Lamongan, Jatim. Mereka, akan dirawat dan diberi pelayanan secara cuma-cuma sampai membaik.

Anggota polisi yang dikenal dengan aksi sosial; merawat, merehabilitasi ratusan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan gelandangan ini, didatangkan di Pacitan, oleh Kapolres Pacitan, AKBP Ayub Diponegoro Azhar. Ia tak sekadar datang lalu kembali, tapi untuk melakukan kegiatan ‘Polisi Baik’ di kabupaten dengan sebutan lain 1001 gua.

“Insya Allah, ada 4 warga Pacitan akan kami jemput besok (Rabu), dan semuanya akan saya kasihkan layanan gratis,” ujar Ipda Purnomo, di sela melihat kondisi ODGJ di Desa Petungsinarang, Pacitan, Selasa (13/01/2026).

Nama-nama yang hendak dijemput di antaranya, Karmin, warga RT 02, RW 08, Dusun Ketro, Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar, kemudian Wiji Lestari, warga Krian, Kelurahan Sidoharjo, Pacitan, selanjutnya M. Bachtiar Rifai, warga Baleharjo, Pacitan, dan Agus Setiawan, warga Desa Ngunut, Kecamatan Bandar.

Terlihat, ketika datang di Kantor Desa Petungsinarang, Purnomo bersama istri dan tim disambut hangat oleh warga setempat. Tak sedikit dari mereka yang sudah mengenal bagaimana kiprah sesosok polisi itu, baik melalui laman sosial maupun televisi.

Saat duduk berbincang dengan seorang ODGJ yang hendak ia bawa, Purnomo tanpa ragu merangkul, menyuapi, memotong kuku, hingga menggosokkan giginya. ODGJ yang awalnya terlihat sedikit canggung, namun usai bertukar kata beberapa saat mulai nurut, dan sudi ketika ditawari untuk diajak ke Lamongan.

“Alhamdulillah Pak Kapolres Pacitan, bersama pihak desa, pemerintah, berkolaborasi untuk melakukan hal baik. Mudah-mudahan semua pasien yang kami rawat, kami bawa pulang ke Lamongan semuanya sehat, dan nanti bisa dilanjutkan oleh kader kesehatan,” ucap Purnomo.

“Terima kasih Pak Kapolres sudah datangkan kami di Pacitan. Mudah-mudahan nanti kalau ada yang sehat, bisa ditularkan ilmunya, oh … gini lho menangani pasien (ODGJ). Dan ketika sudah kembali, aplikasi resep, suntiknya juga harus sama dengan kita,” sambung pria pemilik Yayasan Berkas Bersinar Abadi, di Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Lamongan.

Di satu sisi, Purnomo mengakui bahwa, penanganan ODGJ ini bukan perkara yang gampang. Progam bebas pasung, kata dia, secara teori tujuan dari kebijakan tersebut sangat baik. Hanya saja, praktik di lapangan tak semudah membalik telapak tangan, tentunya banyak tantangan yang harus dihadapi.

“Di mana-mana banyak progam bebas pasung. ODGJ ini sangat sulit, kalau tidak di pasung ya membahayakan, juga kabur. Memang progamnya baik, tapi kenyataannya sangat sulit,” ungkap Purnomo, saat wawancara dengan TerasJatim.com.

Penanganan ODGJ yang ia urusi bukan hanya dapat pelayanan medis saja, namun para pasien akan mendapat perawatan oleh beberapa dokter hingga ruqiah, yang dilakukan secara profesional.

“Yayasan saya di Lamongan ini sudah dinaungi dinas sosial, dinas kesehatan. Di tempat kami ada 2 dokter; dokter psikiater, dokter ahli jiwa, ditambah perawat, ruqiah dan ngaji juga ada,” jelas dia.

Disoal bagaimana ketika ada warga Pacitan yang ingin menitipkan ODGJ di tempatnya, ia menegaskan bahwa ini adalah awal atau contoh, yang tidak menutup kemungkinan ke depan akan berkelanjutan.

“Tadi kami berunding dengan Pak Kapolres, ndan mohon ijin, ini percontohan, kalau sebulan dua bulan hasilnya bagus bagaimana. Warga Pacitan bisa langsung WA Pak Kapolres,” katanya.

Inisiasi penanganan ODGJ dengan mendatangkan Ipda Purnomo tersebut, mendapat tanggapan baik oleh pemerintah desa. Tanggapan itu seperti yang diutarakan oleh Suryadi, Kepala Desa Petungsinarang.

Menurutnya, pemerintah desa tidak kurang memberikan pelayanan kepada masyarakat perihal ODGJ. Hanya saja, karena keterbatasan sehingga para penderita belum bisa mendapat perawatan yang lebih baik.

“Progam Pak Kapolres ini luar biasa, karena selain meringankan beban desa, juga betul-betul menolong warga ODGJ, bahkan yang nasibnya kurang beruntung. Pemdes tidak kurang-kurang mengurusi ODGJ, namun keterbatasan segalanya kami belum mampu (sampai) menyembuhkan,” ucap Suryadi, menambahkan. (Git/Kta/Red/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim