Hari Ini, Hari ‘Rebo Wekasan’ ?

Hari Ini, Hari ‘Rebo Wekasan’ ?
ilustrasi

TerasJatim.com, Bojonegoro – Hari ini, Rabu (09/12) yang bertepatan dengan hari Rabu terakhir pada bulan Safar dalam penanggalan Hijriyah, banyak kalangan menyebutnya sebagai hari “Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan”.

Dimana diyakini pada hari ini merupakan hari diturunkannya 320 ribu bencana atau baliyaat.

Hal itu merujuk pada keterangan kitab Al-Jawahir al-Khoms, karangan Syech Kamil Fariduddin as-Syukarjanji. Di halaman ke 5 kitab tersebut menyebutkan, setiap tahun pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, Allah SWT akan menurunkan 320.000 bala bencana ke muka bumi.

Disebutkan, pada hari itu akan menjadi hari yang paling sulit di antara hari-hari dalam satu tahun. Dalam kitab tersebut, dianjurkan untuk mendirikan Shalat 4 rakaat, pada tiap rakaatnya setelah membaca Surat Al-fatihah dilanjutkan membaca surat Al-Kautsar 17 kali, al-ikhlas 4 kali, lalu surat Al-Fallaq dan An-Naas, masing-masing satu kali.

Sementara itu, Syech Abdul Hamid al-Quds, Imam Besar Masjidil Haram, mengatakan dalam bukunya “Kanzun Najah was- Surur fi Fadail al-Azmina wasy-Syuhur“ juga menyatakan, banyak Auliya (wali) Allah SWT, yang mempunyai pengetahuan spiritual tinggi (Makrifat) telah menandai bahwa setiap tahun, ada 320 ribu bencana jatuh ke bumi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar ini. Sehingga tak mengherankan, jika hari ini kita melihat banyaknya pembahasan tentang hari Rebo Wekasan di media sosial.

Ada yang pro ada pula yang kontra. Banyak juga yang mengatakan ‘gak paham’ dengan istilah Rebo Wekasan ini. Namun tak sedikit pula yang memaknai positif dengan cara mesu budi, tirakatan dan melakukan doa bersama .

Dalam sejarah budaya Jawa masa Kekhalifahan/Kerajaan Mataram Islam, Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan diakomodir dengan berbagai macam aktifitas islami. Lazimnya, dalam tradisi Rebo Wekasan ini, diisi dengan selamatan dan berkumpul untuk tahlil dan melakukan Sholat serta berdoa bersama agar mendapat keselematan dunia akherat.

Dari beberapa sumber, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia, menerima dengan baik soal tradisi Rebo Wekasan itu.

Namun demikian, sesuai fatwa KH Mustofa Bisyri atau akrab disapa Gus Mus, mengenai Sholat pada Rebo Wekasan, itu harus diniati Sholat Sunat Mutlak atau niat Sholat Hajat.

“Kalau di kampung-kampung masih ada yang melakukaan Sholat pada Rebo Wekasan, ya niatnya saja yang harus diubah. Jangan niat Sholat Rebo Wekasan, tapi niat Sholat Sunat Mutlak gitu saja,” terang Gus Mus yang dikutip dari blog Yayasan Sunan Bonang, mengenai masalah Sholat Rebo Wekasan ini.

Atau, kata Gus Mus, diganti dengan niat Sholat Hajat, walau hajatnya minta dijauhkan dari bala’.

Pokoknya, lanjut Gus Mus, jangan niat sholat Rebo Wekasan karena memang nggak ada dasarnya.

Apa yang disampaikan oleh Gus Mus itu senada dengan apa yang telah difatwakan pendiri NU, Almaghfurlah KH Hasyim Asyari, bahwa tidak boleh mengajak atau melakukan sholat Rebo Wekasan, karena hal itu tidak ada syariatnya. (Diolah dari berbagai sumber-Saiq/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim