Bhineka Tunggal Ika, Dasar Pluralisme Berbangsa dan Bernegara

Bhineka Tunggal Ika, Dasar Pluralisme Berbangsa dan Bernegara

TerasJatim.com, Kediri – “Konon dikatakan wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Siwa dan Buddha memang berbeda, namun bagaimana kita mengenalinya dalam sekilas pandang, Hakikat ajaran Buddha dan Siwa sebenarnya tunggal. Berbeda-beda tetapi satu jua. Tidak ada kebenaran yang mendua. Itu tadi sedikit cuplikan dasar sejarah dari tulisan yang tertera pada lambang negara kita yaitu bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika yang secara harfiah artinya, berbeda-beda tapi tetap satu,” kata Danramil Pare Kapten Arh Ajir di awal Wawasan Kebangsaan dengan Tema Bhinneka Tunggal Ika Menjadi Dasar Pluralisme Berbangsa dan Bernegara ,kepada siswa siswi SMPN Badas Kecamatan Badas Kabupaten Kediri, Jumat (13/11).

Wawasan Kebangsaan ini menjadi sarana penetralisir pikiran generasi muda di Kabupaten Kediri, termasuk wilayah Kecamatan Pare dan Badas. “Di Kediri ini, ada satu desa yang mayoritas beragama Hindu, tepatnya berada di Kecamatan Ngancar.  Ketika gunung kelud meletus tahun lalu, masjid satu-satunya di desa itu rusak berat. Warga sekitar yang mayoritas beragama Hindu datang bergotong royong memperbaiki masjid tersebut tanpa memandang segala perbedaan keyakinan. Padahal di desa tersebut hanya terdapat 12 KK yang beragama Islam,” kata Kapten Arh Ajir.

“Saya teringat kata-kata Bapak Dandim Kediri, Letkol Inf Purnomosidi beberapa minggu yang lalu, sewaktu kita masih kecil, tidak ada minuman susu untuk balita berlabel khusus hanya boleh diminum oleh pemeluk agama tertentu. Saat kita remaja dan menginjakkan kaki di pelataran pendidikan, tidak ada bangku dan kursi sekolah yang berlabel khusus yang hanya boleh digunakan oleh pemeluk agama tertentu. Saat kita dewasa, kepedulian terhadap sesama menjadi dasar acuan kita mendonorkan darah kepada PMI, disana tidak ada golongan darah menurut kategori agama, yang ada hanya golongan darah A , B atau AB dan O,” sambungnya.

Wawasan Kebangsaan yang terprogram dan terencana ini, dilakukan Kodim 0809/Kediri secara bergilir kepada siswa siswi tingkat SMP, maupun SMA di titik-titik strategis, sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan situasi dan kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini. Gesekan demi gesekan atas nama agama atau yang sebenarnya hanya gesekan antar warga kampung yang kemudian di pelintir menjadi gesekan agama. (Delta Tujuh untuk TerasJatim.com)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim