Benih Bening Lobster Boleh Ditangkap, Potensi Lestari Pacitan Lampu Hijau

Benih Bening Lobster Boleh Ditangkap, Potensi Lestari Pacitan Lampu Hijau

TerasJatim.com, Pacitan – Sejak adanya pemberitaan penangkapan seorang yang melakukan praktik jual beli benih bening lobster (BBL) di Pacitan, Jatim, tak sedikit orang yang mempertanyakan terkait nelayan yang diperbolehkan menangkap benur.

Pertanyaan itu masuk kepada TerasJatim.com melalui aplikasi perpesanan WhatsApp. Mereka menanyakan hal tersebut hanya sekadar rasa ingin tahu.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Tangkap, Dinas Perikanan Pacitan, Bambang Mahendrawan, kegiatan penangkapan BBL tetap diperbolehkan. Tentunya dengan sejumlah ketentuan atau prosedur yang baru.

“Sejak tahun 2020, benur itu boleh ditangkap, boleh dikelola,” ujar Bambang, saat ditemui TerasJatim di sela-sela aktivitasnya, Selasa (22/06/21) kemarin.

Dalam perjalanannya, kata dia, untuk ekspor BBL ditangguhkan. Hal itu menyusul keluarnya surat edaran dari Dirjen Perikanan Tangkap, kemudian Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 17 Tahun 2021, yang mengatur pengelolaan kepiting, rajungan, termasuk di dalamnya terkait lobster.

“Dalam Permen KP Nomor 17/2021 itu, untuk ekspor benur hasil tangkapan langsung dari laut tidak diperbolehkan. Tetapi, harus melalui pembudidayaan terlebih dahulu hingga ukuran tertentu, baru boleh di ekspor,” katanya.

Bambang memaparkan, penangkapan atau pengeluaran lobster dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hanya dapat dilakukan dengan ukuran panjang di atas 6 centimeter atau berat di atas 150 gram per ekor untuk jenis pasir. Sedangkan untuk jenis lainnya, panjang di atas 8 centimeter atau berat di atas 200 gram per ekor. “Kalau lalu lintas di dalam negeri, misalnya dari Pacitan mau di bawa ke Lombok untuk budidaya, ya harus di atas 5 gram (beratnya),” urainya.

Penangkapan benur, lanjutnya, hanya dapat dilakukan oleh nelayan kecil yang terdaftar dalam kelompok nelayan di lokasi penangkapan dan telah ditetapkan. Mereka harus mendaftar melalui Lembaga Online Single Submission (OSS), baik langsung, dibantu atau difasilitasi oleh dinas terkait.

“Bagi nelayan kecil yang belum terdaftar, mereka dapat melakukan penangkapan sepanjang telah ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dan untuk seluruh hasil tangkapan, nelayan wajib melaporkannya kepada dinas terkait,” terangnya.

Sementara itu, disoal terkait tingkat lestari di wilayah Pacitan, menurutnya masih di bawah potensi lestari. Hal itu merujuk dari penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan hasil produksi.

“Berdasarkan penelitian LIPI sekitar tahun 1980 an, 2potensi lestarinya adalah 36 ribu ton per tahun. Produksi yang dirilis oleh dinas tahun 2020 sekitar 11-12 ribu ton. Jadi masih jauh di bawah potensi lestarinya. Kalau merujuk pada lampu lalu lintas, kita masih berada di lampu hijau,” pungkasnya. (Git/Kta/Red/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim