Beda Nasib Perajin Terompet di Lamongan dan Blitar

Beda Nasib Perajin Terompet di Lamongan dan Blitar
Misrin (54), warga Desa Sumberaji Kecamatan Sukodadi Lamongan, yang tahun ini meraup banyak untung

TerasJatim.com, Lamongan, Blitar – Seharusnya, di setiap momen pergantian tahun baru, selalu membawa berkah bagi perajin terompet. Di Lamongan, sebagian besar perajin meraup untung yang berlipat,

Salah satunya dirasakan oleh seorang Misrin (54), warga Desa Sumberaji  Kecamatan Sukodadi Lamongan ini. Sudah beberapa hari terakhir, diriinya sibuk mengerjakan pesanan terompet. Hal tersebut dilakukan Misrin, karena  semakin mepetnya waktu perayaan tahun baru, dan terompet harus selesai serta segera dipasarkan ke sejumlah wilayah termasuk hingga ke Kabupaten Sumenep Madura.

Karena banyaknya permintaan, kondisi ini membuat perajin menuai berkah. Menurut Misrin, biasanya pada tahun-tahun sebelumnya, perajin hanya membuat 500 buah terompet. Namun untuk tahun ini,  dirinya membuat 1000 lebih terompet dengan bermacam varian, seperti model ular naga, ayam dan kupu-kupu, dengan harga mulai  5 ribu rupiah hingga 50 ribu rupiah  per terompetnya.

“Alhamdulillah pokoknya tahun ini rame mas.” Ucapnya.

Sementara itu, beda lagi dengan perajin terompet di wilayah Blitar. Setelah kemarin Kepolisian Resort Blitar mengamankan ratusan terompet berbahan baku sampul luar Al-Qur’an, hari ini (31/12), polisi kembali menyita dan mengamankan 192 terompet dari para pedagang.

Hingga kini, total terompet dari sampul luar Al-Qur’an yang berhasil diamankan polisi Blitar sebanyak 664 buah terompet. Dan diperkirakan masih ada puluhan terompet yang masih beredar di luar.

Tampak  Warsito (40) perajin terompet yang berada di Desa Selopuro Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar, tertutup rapat

Tampak rumah Warsito (40) perajin terompet yang berada di Desa Selopuro Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar, tertutup rapat

Sementara itu, rumah pembuat terompet dari sampul Al-Qur’an, Warsito (40) yang berada di Desa Selopuro Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar, tertutup rapat. Rumah yang juga sebagai tempat untuk berjualan tersebut, terlihat tidak ada aktifitas sama-sekali. Sedangkan Warsito hingga kini statusnya masih sebagai saksi, dan hanya diwajibkan lapor ke polisi seminggu dua kali.

Menyikapi peredaran terompet bermasalah tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Blitar, melalui humasnya, Jamil Masyhari mengatakan, untuk Warsito atau pembuat terompet dari sampul Al-Qur’an tidak bisa dikatakan menistakan agama. Karena Warsito tidak mengetahui jika perbuatannya akan melanggar hukum agama atau bertentangan dengan agama. “MUI Kabupaten Blitar menyerukan kepada Warsito, agar tidak mengulangi lagi perbuatanya dan segera bertaubat.,” terang Jamil Masyhari.

Pihak Kepolisian Resort Blitar dan MUI Kabupaten Blitar, sudah berkoordinasi dengan para tokoh agama dan tokoh masyarakat, terkait temuan ratusan terompet dari sampul Al-Qur’an tersebut, dan sepakat tidak ada unsur kesengajaan dari Warsito,  dengan membuat terompet dari sampul Al- Qur’an. (Crus/Aji/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim