Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

15 Hari Dirawat di RSJ Menur, Ini Kondisi Wiji Fitriani Perempuan Kanibal Asal Kediri

15 Hari Dirawat di RSJ Menur, Ini Kondisi Wiji Fitriani Perempuan Kanibal Asal Kediri

TerasJatim.com, Surabaya – Wiji Fitriani (28), pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang berasal dari Dusun Tambak Desa Ngadi Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri, telah menjalani perawatan secara intensif selama 15 hari di RSJ. Menur Surabaya.

Pasien gangguan jiwa ini sebelumnya viral di media sosial karena suka menyakiti tubuhnya sendiri seperti menggigit jari-jemarinya hingga hampir putus. Penderitaannya pun menjadi perhatian sejumlah pihak, salah satunya Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Saat dikunjungi Gubernur, kondisi luka tubuhnya dan kejiwaan serta sosialnya semakin membaik, bahkan Wiji menyapa terlebih dahulu dengan memanggil Ibu Khofifah. Sontak Khofifah pun membalas panggilannya dan mengulurkan tangan menyambut tangan gadis sefromenia ini dengan luka-luka telapak tangan yang masih diperban setelah dilakukan amputasi sebagian.

Hampir 30 menit Khofifah melakukan dialog dengan Wiji yang terlihat komunikatif. Ia pun menjawab dengan baik setiap pertanyaan Gubernur. Kalimat kapan boleh pulang dan sudah kangen dengan mbahnya (Jira, 73) yang telah mengasuhnya sejak kecil) terucap seraya menanyakannya kepada mantan Menteri Sosial ini. Kepada Wiji Fitriani, Khofifah mengatakan, jika sudah sembuh dan sehat, maka ia nanti boleh pulang dan hidup bersama nenek lagi.

Pada kesempatan itu, Khofifah juga memberikan tasbih kepada WIji yang dikatakannya jika malam hari tasbih tersebut bisa menyala. Selain tasbih juga diberikan bingkisan hadiah.

Di hadapan sejumlah wartawan, Khofifah menceritakan, bahwa kondisi Wiji Fitriani sudah semakin membaik. Luka jari-jari sebelah kanan dan telapak tangan kiri juga membaik setelah dilakukan operasi, juga luka di siku dan kaki.

Dari aspek kejiwaan dan sosialnya juga berangsur-angsur pulih. Hal ini ditandai dengan peduli terhadap kondisinya yang ingin pulang dan kangen si-mbah-nya. “Teman-teman bisa melihat, menurut saya physicosocial therapy berhasil baik, relasi sosialnya terbangun dengan baik karena Orang Dengan Gangguan Jiwa atau psikotik physicososial therapy ini menjadi sangat penting dan kontiunity komsumsi minum obat harus dijaga,” terangnya.

Ke depan, sambung Khofifah, harus ada komunikasi dengan puskesmas, polindesa untuk menjaga keberlanjutan konsumsi minum obat. Menurut Khofifah, harus ada Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) yang melakukan  pendampingan bagi pasien ODGJ. Ini seperti Wiji, yang memerlukan perhatian dan pendamping saat kontrol di puskesmas atau rumah sakit.

Di RSJ Menur ini, Wiji ditangani oleh tim dokter terkait untuk memastikan kapan ia diperbolehkan pulang dan setelah meninggalkan rumah sakit juga ada tim medis dari dokter dan perawat yang menangani pasca perawatan.

Selain ruangan yang ditempati Wiji Fitriani, Gubernur juga meninjau ruangan lain di rumah sakit jiwa yang menjadi rujukan dari daerah ini. Khofifah juga melakukan dialog atau berkomunikasi dengan para pasien, yang dalam kesempatan tersebut lebih banyak perempuannya. (Jnr/Kta/Red/TJ)

Baca juga: https://www.terasjatim.com/gubernur-minta-kasus-widji-perempuan-kanibal-asal-mojo-kediri-segera-ditangani/

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim