Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Terkait Insiden di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Jajaran Polda Jatim Siaga 1

Terkait Insiden di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Jajaran Polda Jatim Siaga 1

TerasJatim.com, Surabaya – Kapolda Jatim Irjen Pol. Machfud Arifin, mengintruksikan kepada jajaran Polres pada Polda Jatim untuk “Siaga 1” terkait insiden di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jabar, Selasa (08/05) malam hingga Rabu (09/05) dini hari.

Hal itu disampaikan oleh Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol. Frans Barung Mangera “Pengetatan pengamanan itu tak hanya di Mapolda Jatim, tapi juga di seluruh jajaran di bawah Polda Jatim, mulai dari jajaran terbawah yakni Polsek, hingga Polres dan Polda Jatim,” jelasnya, Rabu (09/05) malam.

Barung menegaskan tak ada libur bagi personel kepolisian di Jatim. “Sampai saat ini, perintah dari Kapolda Jatim tidak ada libur,” imbuhnya.

Diketahui, kerusuhan terjadi di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok Jabar ini mengakibatkan 5 anggota Brimob gugur dan seorang narapidana kasus terorisme tewas.

Kelima anggota Polri tersebut, masing-masing Iptu Yudi Rospunji Siswanto (Densus 88 AT Polri), Aipda Denny Setiadi (Polda Metro Jaya), Brigpol Fandy Setyo Nugroho (Densus 88 AT Polri), Briptu Syukron Fadhli (Densus 88 AT Polri) dan Briptu Wahtu Catur Pamungkas (Densus 88 AT Polri).

Peristiwa yang bermula dari cekcok antara tahanan dan petugas dari personel Brimob Polri ini kian membesar, hingga polisi harus mensterilkan lingkungan di sekitar Mako Brimob.

Banyak informasi beredar di media sosial yang mengklaim terkait situasi terakhir di Markas Korps Brimob itu. Video dan foto pun beredar di dunia maya. Polri meminta masyarakat tak langsung percaya atas berbagai informasi tersebut.

Sementara, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol M. Iqbal mengungkapkan, lima anggota polisi gugur dan satu narapidana kasus terorisme tewas dalam insiden tersebut. Satu narapidana terorisme itu terpaksa ditembak petugas karena melawan dan berusaha merebut senjata petugas.

“Kami sampaikan bahwa kejadian insiden ini memakan korban nyawa. Ada lima rekan kami dan satu dari mereka (narapidana terorisme) terpaksa kami lakukan upaya kepolisian karena melawan dan mengambil senjata petugas,” ujar Iqbal saat memberikan keterangan kepada awal media yang meliput tak jauh dari gerbang Mako Brimob, Rabu (09/05) petang.

Saat ini, kata Iqbal, keenam jenazah sudah dibawa ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. “Rekan kami yang gugur saat ini sudah di RS Polri Kramat Jati,” imbuh pria yang pernah menjabat sebagai Kapolrestabes Surabaya itu.

Sementara itu, hingga Rabu (09/05) sore pukul 15.45 WIB, masih ada satu anggota polisi yang disandera oleh narapidana terorisme di dalam rutan Mako Brimob. Namun dapat dipastikan, aparat kepolisian telah berhasil mengamankan situasi sehingga peristiwa tersebut dapat diisolir.

Selain itu, proses negosiasi pun masih terus dilakukan. “Satu rekan kami masih di dalam sedang disandera saat ini di tengah situasi kondusif kami dapat mengamankan situasi dan memblokir tahanan tersebut, sehingga tidak melebar keluar. Kami masih terus melakukan negosiasi,” katanya.

Iqbal menegaskan, insiden antara narapidana terorisme dan sejumlah anggota  polisi ini berawal dari keributan antara tahanan dan petugas kepolisian yang bermula dari penolakan pihak keluarga narapidana terorisme saat polisi hendak memeriksa makanan yang dibawa. Ketika itu pihak keluarga bermaksud menjenguk salah satu narapidana terorisme. “Bahwa pemicunya adalah hal yang sepele, pemicunya adalah masalah makanan,” ujar Iqbal.

Iqbal menegaskan, sesuai standar prosedur operasional (SOP), seluruh makanan yang berasal dari luar dan akan diberikan kepada tahanan harus melalui pemeriksaan. “Sesuai SOP memang makanan diverifikasi oleh kami apakah ada barang-barang lain. Hal itulah kemudian terjadi keributan, cekcok,” kata Iqbal.

Saat terjadi keributan itulah, enam anggota polisi disandera dan diduga senjatanya direbut oleh para tahanan narapidana teroris. “Alhamdulillah situasi terkendali, karena kami mengutamakan upaya persuasif yaitu negosiasi kepada beberapa tahanan yang ingin dan mau diajak untuk komunikasi,” pungkasnya. (Ah/Kta/Red/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim