Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Tagar Papa Minta Saham

Tagar Papa Minta Saham
(doc. www.merdeka.com)

TerasJatim.com  – Sudah lumayan lama, saya tidak buka medsos saya yang di twitter. Saat menonton siaran berita di televisi, hari ini dikabarkan  bahwa netizen di twitter diramaikan oleh #papamintasaham (baca : Tagar Papa Minta Saham).

Bisa jadi,  ini semua berkaitan erat dengan ramainya issu dan kegaduhan nasional, setelah muncul adanya transkrip pembicaraan SN sang “Politikus Kuat” dan “Komandan”, dengan beberapa orang terkait dengan lobi perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia di Papua. Saat bernegosiasi dengan Freeport, dalam transkrip tersebut disebutkan, bahwa nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dicatut, untuk meminta saham Freeport.

Dalam sekejap, meme yang dibuat netizen dengan #papamintasaham itu menjadi trending topic  dan aksi guyonan pembicaraan di media sosial, terlebih di twitter dan face book.

Diakui atau tidak, kekuatan media sosial sekarang ini, sungguh amat dahsyat. Tulisan yangg kita baca dan itu menarik,  tanpa ba-bi-bu, langsung bisa dishare dengan berulang-ulang dan berantai oleh orang lain. Sehingga proses gethok tular atau viral ini terjadi dengan sangat cepat dan berakibat sangat  dahsyat dan dapat berimplikasi pada sebuah opini publik. Apalagi jika tulisan yang kita posting atau sebarkan, berhubungan erat dengan masalah-maslah sosial dan yang bersentuhan dengan hajat hidup kemasyarakatan.

Di twitter, #papamintasaham, merupakan bentuk sindiran sekaligus bahan lelucon, dan dianalogikan seperti halnya kasus penipuan lewat sms yang menggunakan kalimat, “Mama Minta Pulsa”. #papamintasaham ini sungguh luar biasa,  sampai-sampai orang nomer satu di Republik ini, entah karena jengkel namanya dicatut atau alasan lainnya, hari ini Presiden Jokowi juga ikut-ikutan berceloteh tentang maksud tagar ini.

Seperti yang ditulis Tempo.co (Rabu, 18/11), “Setelah papa minta pulsa, jadi papa minta saham,” kata Jokowi di Istana Negara dalam pidato sambutan Konvensi Nasional Humas 2015 yang diadakan Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia, Rabu, 18 November 2015. Ratusan peserta yang hadir sontak tertawa terbahak-bahak mendengar Jokowi.

Buat saya, dengan hadirnya media sosial yang sekarang kita akrabi ini, rasanya agak sulit untuk mencari manusia atau pribadi yang masuk kategori kuper dan tidak mengetahui hal ihwal yang terjadi di dunia yang jauh dari jangkauannya sekalipun.

Paling tidak, media sosial sekarang ini bisa memengaruhi opini publik layaknya media konvensional yang sudah lebih dulu eksis. Selain mem-posting keluh kesah seperti yang dahulu dilakukan oleh para pengguna Internet pada awal kemunculannya di awal 2000-an. Kini, media sosial banyak di isi oleh penggunanya untuk saling berbagi kabar, baik yang ditulis oleh media on-line, ataupun kabar yang diterima dari media-media lainnya.

Buat kita, media sosial sekarang adalah kebutuhan primer untuk mengakses setiap kebutuhan informasi, baik yang terjadi disekeliling kita, maupun yang jauh dari jangkauan phisik kita.

Seperti yang saya baca di Spektrum,  tulisan Andhika Anggoro Wening, tentang pendapat Kane dan Fichman, dalam Journal of Computer-Mediated Communication menyatakan, media sosial telah mengubah proses penyampaian informasi yang sebelumnya terpusat menjadi terdesentralisasi.

Artinya, setiap kabar dan berita, bisa jadi bukan hanya kita peroleh dari satu atau beberapa sumber berita semata, namun kini kita bisa mendapatkan akses informasi dari mana saja, tanpa adanya barrier dan klasifikasi yang formal. Informasi bisa kita dapatkan dari sumber yang tidak jelas, setengah remang-remang atau yang jelas seperti halnya dari media resmi.

Seperti halnya media sosial,di dalamnya kita dapat mengirimkan informas, atau mendapatkan informasii kapanpun kita mau dan inginkan. Baik lewat gaya formal maupun dengan gaya guyonan dan nonformal. Faktanya, tidak ada lagi batas-batas bahwa kebijakan informasi harus dikendalikan oleh pusat.

Dahulu, untuk mendapatkan informasi tentang kasus yang terjadi di luar jangkauan kita, kita harus menunggu beberapa saat atau mungkin beberapa waktu lamanya, dan hanya dari media konvensional saja. Tapi sekarang, hal yang terkecil maupun issu besar, dapat dengan cepat  kita ketahui dengan cara yang mudah dan praktis. Seperti halnya kasus makelar Freeport ini.

Mari kita buka #papamintasaham, di medsos kita.

Salam Kaji Taufan

 

 

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim