Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Seragam Salah Kaprah

Seragam Salah Kaprah
ilustrasi

TerasJatim.com – Lagi, kasus kekerasan terjadi pada sebuah  sekolah kedinasan pemerintah, atau Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK).

Kali ini, dikabarkan, beberapa oknum praja senior IPDN melakukan penganiayaan kepada taruna Akmil yang tengah melakukan studi banding di kampus IPDN.

Pemukulan itu terjadi pada 19 November dini hari. Ada dua taruna Akmil yang dibawa ke sebuah ruangan dan dihukum dengan dipukul. Alasannya  sepele, karena 2 taruna Akmil tersebut foto-foto di daerah yang dianggap sakral bagi kalangan internal  IPDN.

Tentu saja, peristiwa memalukan ini sontak menjadi sebuah rasan-rasan yang tidak pantas. Dan dikhawatirkan hal ini menjadi sebuah pemicu permusuhan antar lembaga pendidikan kedinasan.

Kabarnya, dari peristiwa ini, Gubernur Akmil marah besar saat mendengar ada anak didiknya yang mendapat perlakuan tidak selayaknya. Dan kabarnya lagi, pihak Akmil juga akan segera  menuntut pertanggung jawaban dari lembaga IPDN.

Saya mencoba untuk sekedar mengingat-ingat, sudah berapa kali praktek kekerasan sering kita dengar dan lihat dari lembaga pendidikan yang mengandalkan hukuman dengan sebuah tindak kekerasan. Bahkan hal ini, sudah banyak membawa korban dan kematian. Tapi nyatanya, sampai sekarang kita masih mendengar hal yang sama terjadi.

Publik juga masih mengingat beredarnya video penganiayaan yang dikonotasikan sebagai pembinaan senior terhadap para yuniornya, dengan cara-cara brutal dan dilakukan secara berjamaah.

Seperti yang saya kutip dari tulisan Widyawati Sianturi, Psikolog dari Universitas Gunadarma, bahwa  Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) merupakan lembaga pendidikan tinggi negeri yang memiliki ikatan dengan lembaga pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan. Sistem pendidikan di beberapa PTK adalah semi militer. Semi militer memiliki arti sebagai sistem pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip militer.

Namun untuk sebagian PTK yang berorientasi militer seperti Akmil, AAU, AAL, prinsip yang diterapkan murni militer, karena lulusannya akan berkecimpung di bidang tersebut. Semi militer memiliki beberapa aspek diantaranya yaitu seragam yang didesain khusus dengan atribut-atribut tertentu, kerapian (rambut, pakaian, dan sepatu), senioritas yang tinggi, kegiatan fisik yang padat, dan kampus yang berasrama. Taruna adalah sebutan mahasiswa di Perguruan Tinggi Kedinasan.

Dari beberapa kasus kekerasan yang terjadi di sekolah kedinasan, dapat dilihat munculnya perilaku agresifitas pada pelaku kekerasan berhubungan erat dengan adanya rasa senioritas dan adanya penggunaan seragam saat terjadinya kasus. Status dan pakaian seragam seolah-olah diagungkan oleh pelaku dan pemakainya untuk mempertontonkan kekuatan dan kekuasaan.

Pembinaan dalam konteks pendidikan seharusnya jauh dari tindakan kekerasan fisik. Kekerasan fisik tidak boleh disalah artikan sebagai  pembinaan dengan tujuan hukuman tetapi seharusnya sebagai perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Ketika pembinaan keluar dari konteks pendidikan yang terjadi tindakan kekerasan tersebut akan terjadi turun temurun dan melahirkan kasus-kasus baru.

Kita berharap kasus tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi pemerintah, untuk terus mengevaluasi sistem pendidikan dan kultur budaya yang terjadi di dalam sekolah-sekolah kedinasan pemerintah, atau Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK). Selanjutnya dicari akar masalah yang mendasar, kenapa kebanyakan dari siswa atau taruna tersebut menjadi pribadi yang arogan dan merasa superior terhadap sesama, terlebih kepada yang dianggap masih yunior.

Bisa jadi sudah terlalu kuno cara-cara yang hingga kini masih bersemayam dan dipelihara untuk menghasilkan calon pamong praja yang pada akhirnya akan menjadi pelayan masyarakat.

Seharusnya, calon abdi dan pelayan masyarakat ditanamkan jiwa yang penuh dengan kelembutan, welas-asih, andhap-asor dan bisa ngemong  dengan cara dialogis yang humanis, bukan dengan sebuah aksi hantam kromo dan kekerasan.

Jauhkan pengertian dan pemahaman tentang seragam yang salah kaprah !

Salam Kaji Taufan

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim