Pemukiman di Lereng Gunung Wilis Retak, Puluhan Warga Parakan Trenggalek Mengungsi

Pemukiman di Lereng Gunung Wilis Retak, Puluhan Warga Parakan Trenggalek Mengungsi

TerasJatim.com, Trenggalek – Curah hujan yang tinggi di lereng Gunung Wilis, menyebabkan ancaman bencana tanah longsor mengintai warga Trenggalek Jawa Timur. Kini bencana tanah retak melanda lingkungan Dusun Njelok, Desa Parakan, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek.

Tanah di belakang rumah warga setempat tiba-tiba terbuka. Tanpa menunggu waktu lama retakan menjalar ke 23 rumah warga lain, termasuk merusak sebuah mushala.

Khawatir terjadi hal yang tak diinginkan, puluhan warga memutuskan mengungsi ke rumah kerabat atau tempat yang dinilai lebih aman.

“Kita memutuskan mengevakuasi ke tempat yang lebih aman,“ ujar Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek Sarimumanti, seperti dilansir Okezone, Sabtu (16/10).

Dusun Njelok Desa Parakan sendiri adalah perbukitan yang berada di lereng Gunung Wlilis. Sebagian besar kawasan ini kehilangan tanaman berakar tunggang sehingga membuat kontur tanah menjadi labil. Tidak hanya ambrol, curah hujan tinggi membuat tanah bergerak.

Menurut Sarimumanti, warga akhirnya memutuskan hengkang setelah melihat lantai dan tembok rumahnya pecah. “Saat retak terjadi di perbukitan warga masih nekat bertahan. Namun, setelah lantai dan tembok rumah ikut retak, mereka akhirnya memutuskan mengungsi,“ terangnya.

Dari data yang dihimpun, bencana tanah retak juga terjadi di wilayah Desa Dawuhan Kecamatan/Kabupaten Trenggalek. Retakan berpotensi longsor mengancam tujuh rumah warga.

Selain wilayah kota, terjangan bencana banjir bandang dan longsor juga hampir merata. Di antaranya di kawasan jalur lintas selatan, yakni Kecamatan Watulimo, Panggul, Kampak, Dongko dan Munjungan. Bencana seolah menjadi langganan di setiap musim penghujan.

Selain itu, di Kecamatan Tugu dan Bendungan. Bahkan, longsor di Desa Nglinggis Kecamatan Tugu sempat melumpuhkan jalan propinsi antara Trenggalek-Ponorogo.

Seringnya bencana sempat memunculkan tudingan bahwa Pemkab Trenggalek tidak memiliki konsep penanggulangan (mitigasi) pascabencana yang jelas. Sementara Pemkab Trenggalek hanya membantu korban tanpa ada rancangan pencegahan. Akibatnya, setiap musim penghujan datang bencana dan terus terulang.

BPBD setempat melakukan pantauan selama 24 jam di lokasi bencana. Sebab, di pagi dan siang hari tidak sedikit warga menjenguk rumahnya dan kembali mengungsi saat malam tiba. Pemkab menjadikan kantor desa sebagai tempat mengungsi bagi warga yang tidak memiliki kerabat dekat.

Bersama aparat kepolisian dan TNI, BPBD serta warga membuat selokan di sekitar rengkahan tanah. Tujuannya agar air hujan yang tercurah tidak langsung masuk ke dalam rengkahan tanah.

Warga meminta pihak BPBD memetakan ulang kawasan bencana di Trenggalek, dan mempublikasikan ke masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. (Bud/Red/TJ)

banner 468x60

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim