Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Nyaleg Sama dengan Melamar Pekerjaan, Benarkah?

Nyaleg Sama dengan Melamar Pekerjaan, Benarkah?

TerasJatim.com, Bojonegoro – Enam ratus lebih Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) yang akan bertarung berebut kursi wakil rakyat (baca: DPRD) di Kabupaten Bojonegoro Jatim, menuai beragam tanggapan dari masyarakat di tlatah Angling Dharma tersebut.

Meski hanya sekadar obrolan warung kopi, tetapi pendapat masyarakat ini menarik untuk disimak dan dicermati sebagai sebuah gambaran kasar tentang pemilu legislatif.

Salah satu pendapat kalangan akar rumput menyebut, nyaleg hanyalah ajang untuk mencari pekerjaan para pelaku politik praktis. Hanya itu, dan tidak lebih.

“Nyaleg itu kan sama saja dengan melamar pekerjaan, semacam audisi melalui proses akeh-akehan suara. Jadi, ya kudu pintar mencari pendukung agar mendapat pekerjaan itu,” ujar salah satu pria di antara kerumunan komunitasnya seusai memesan kopi pahit kesukaannya.

Ia berpendapat demikian, karena didasari pengalamannya selama beberapa kali menjadi tim sukses caleg pada perhelatan pileg.

Menurutnya, dari pengalamannya itu, ia bahkan berani bertaruh bahwa mayoritas caleg hanya berfikir jika mendapat pekerjaan menjadi anggota DPR akan sejahtera dan kaya.

“Para caleg itu 90 persen, bahkan bisa lebih hanya ngincar bekerja sebagai anggota DPR agar bisa kaya. Paling hanya 1 atau 2 orang yang benar-benar akan memperjuangkan rakyat yang diwakilinya, itupun patut diragukan,” ulasnya, disambut tawa kawan-kawan ngopinya yang tampak setuju.

Ia memberikan contoh, salah satu caleg yang dulu didukungnya, kini begitu kaya setelah menjadi anggota dewan di daerah penghasil Migas ini. Namun, ia menilai kekayaan dewan tersebut tidak diimbangi dengan pemenuhan janji-janji saat kampanyenya dulu.

Walah dulu janjinya akan memperjuangkan rakyat agar sejahtera, rela berkorban demi rakyat, pokok’e isine mung kanggo rakyat thok. Tapi, wes dadi dewan yo mikir wetenge dewe kok nyatane,” sambungnya sambil senyum-senyum meski tidak lucu.

Obrolan ngalor-ngidul itupun akhirnya mengerucut tentang bagaimana rakyat sebagai sang pemilik kedaulatan harus bersikap dalam pemilu yang akan dihelat bulan April 2019 mendatang. Yakni dengan menjadi pemilih cerdas, dan tidak melacurkan diri demi amplop yang nanti dipastikan bakal bertebaran.

“Ya kudu cerdas supaya tidak menjadi korban para caleg yang aslinya hanya mencari pekerjaan sebagai DPR dengan kemasan memperjuangkan rakyat yang diwakilinya. Jangan mau terus dibodohi dengan janji-janji palsu,” ungkap pria yang terlihat disegani di lingkungan kawan-kawannya itu.

Memang tak berlebihan rasanya, jika ada pendapat bahwa “nyaleg” itu sama dengan melamar pekerjaan. Sebab sesuai data dari KPU Bojonegoro, sebanyak 631 orang yang akan bertarung memperebutkan 50 kursi di DPRD setempat pada Pileg 2019 mendatang.

Sebagaimana rilis resmi KPU, sejumlah 631 orang Bacaleg itu didaftarkan oleh 16 partai politik peserta Pemilu 2019 yang ada di Bojonegoro. Pendaftaran Bacaleg yang ditutup pada Selasa (17/07) pukul 00:00 WIB itu, kini memasuki tahap verifikasi data para Bacaleg sebelum akhirnya akan dinyatakan lolos atau tidak sebagai caleg tetap oleh KPU.

Sekadar untuk diketahui, seperti pada pemilu sebelumnya di Kabupaten Bojonegoro tetap dibagi menjadi 5 Daerah Pemilihan (Dapil), dengan 50 kursi dewan yang akan diperebutkan. Rinciannya, Dapil I 10 kursi, Dapil II 9 kursi, Dapil III 11 kursi, Dapil IV 9 kursi dan Dapil V 11 kursi. (Saiq/Red/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim