Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Menanti Kejutan Pilpres 2019

Menanti Kejutan Pilpres 2019

TerasJatim.com – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 yang berlangsung di 171 wilayah di Indonesia, pada 27 Juni 2018 kemarin, cukup mengguncang dunia politik nusantara. Setelah satu dekade perjalanannya, pilkada kali ini memberikan angin segar dalam politik Indonesia.

Pilkada Serentak 2018 diwarnai dengan lahirnya kejutan-kejutan baru yang tak terduga dan nyaris tidak pernah terjadi pada pemilihan sebelumnya. Mulai dari kalahnya sejumlah calon petahana, gugurnya rezim politik dinasti, sampai pada kegagalan partai politik dalam menduplikasi kemenangannya pada pemilu 2004.

Pada pilkada yang digelar serentak tahun ini, selain pasangan Syamsuar-Edy yang memenangkan pertarungan kursi Bupati dan Wakil Bupati dengan petahana di Kabupaten Riau, beberapa wilayah dimana pilkada berlangsung juga digemparkan dengan kemenangan kotak kosong yang mengalahkan petahana.

Dalam gejolak Pilkada Serentak 2018, beberapa wilayah di Indonesia masih sarat akan politik dinasti yang turut mewarnai pemilihan kepala daerah. Namun dari hasil hitung cepat atau quick count, pilkada tahun ini melahirkan fenomena baru, yakni gugurnya politik dinasti di beberapa daerah seperti Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Sulawesi Selatan.

Kalahnya petahana dan runtuhnya politik dinasti pada pilkada 2018 dikarenakan pemilih mulai mampu berpikir kritis dan melek demokrasi. Tak hanya itu, boleh dikatakan dalam jangka lima tahun masa kepemimpinan petahana maupun lima tahun masa kepemimpinan kerabat politik dinasti, pemimpin daerah tidak mampu menunjukkan akuntabilitas kerja dengan baik atau belum mampu menuntaskan janji-janji yang telah ditunaikan selama masa kampanye dilangsungkan. Sementara pasangan calon (paslon) lain mampu meyakinkan pemilih dengan rancangan program kerja yang lebih matang dan lebih menjanjikan.

Dalam pemetaan kemenangan Pilkada Serentak 2018, Partai Nasdem disebut-sebut sebagai pemenang dengan perolehan unggul di 10 provinsi. Kemudian, di posisi kedua, pilkada dimenangkan oleh PAN yang menang di 9 provinsi, Hanura dengan perolehan 8 provinsi di posisi ketiga, lalu disusul oleh PKS yang unggul di 6 provinsi, Golkar unggul di 5 provinsi, PKB mampu menang di 5 provinsi, PDI Perjuangan di 4 provinsi, PPP, Demokrat, dan Gerindra, menduduki posisi terakhir dengan perolehan yang sama yakni 3 provinsi.

Kini, Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 telah digadang-gadang akan menjadi pertarungan sengit jilid dua pesta demokrasi tanah air pasca pernyataan kesiapan Prabowo Subianto untuk kembali mencalonkan diri sebagai Presiden RI dalam Pilpres 2019. Dalam perebutan kursi nomor satu di Indonesia, Prabowo akan kembali bersaing dengan Jokowi dalam mempertahankan posisinya di periode dua.

Jokowi dalam Posisi Aman?

Secara singkat, partai pendukung Jokowi dalam Pilpres 2019 yakni Nasdem, PPP, Hanura, dan Golkar masih memimpin klasemen. Namun, kemenangan partai-partai pendukung Jokowi dalam Pilkada 2018 tidak bisa serta merta dijadikan ramalan untuk Pilpres 2019, dan diartikan bahwa Jokowi berada dalam posisi aman.

Bukti pertama ditunjukkan dengan PDI Perjuangan yang mengalami ‘gagal panen’ di Jawa tengah yang sejatinya merupakan lumbung PDI-P. Padahal seperti yang kita ketahui, PDI-P merupakan partai utama pengusung Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang.

Bukti kedua, tahun ini partai politik dinilai gagal dalam melahirkan kader yang berprestasi dan dikenal oleh masyarakat luas yang dibuktikan dengan kemenangan partai didominasi oleh paslon non-kader.

Maka dari itu dapat ditarik kesimpulan jika kemenangan figur bukan berarti kemenangan partai.

Apa Partainya atau Siapa Calonnya?

Tidak hanya itu, dewasa ini, bagi pemegang kartu suara alasan memilih bukan lagi melihat apa partai yang mengusungnya, tetapi lebih melihat siapa calonnya secara individu. Hal ini juga ditopang kuat dengan PKB yang keok dalam kandang dan kemenangan Khofifah-Emil dalam Pilgub Jatim. Meskipun belum lama berkiprah dalam dunia perpolitikan, kemenangan Emil disokong oleh pribadinya yang dikenal sebagai tokoh politik muda dan visioner.

Pada Pilpres 2019 kelak, publik tidak hanya melihat siapa saja koalisi dari masing-masing calon, namun juga akan menilai calon wakil presiden dari kedua belah pihak. Dalam memberikan penilaian, pemilih juga akan lebih teliti dalam melihat seberapa kuat calon presiden dan koalisinya dalam memunculkan figur calon wakil presiden yang akan digandeng. Ketimbang melihat siapa saja partai pendukungnya, pemilih akan lebih mempetimbangankan pasangan calon presiden beserta wakilnya dengan melihat visi dan misi masing-masing  paslon dalam menjanjikan stabilitas ekonomi nasional dan kemakmuran rakyat.

Setelah hampir satu periode memimpin, persentase keterselesaian pekerjaan rumah Jokowi juga dapat dijadikan bahan evaluasi bagi pemilih. Meskipun dikabarkan Jokowi telah menentukan satu nama sebagai calon wakil presiden, Jokowi masih perlu hati-hati. Ia akan berada dalam posisi terancam apabila Prabowo mampu memilih calon wakil presiden dengan benar, ditinjau dari segi elektabilitas maupun secara kesiapan finansial.

Dalam hal ini, tim sukses dari kedua pasangan capres dan cawapres harus mampu bersinergi dengan apik demi mematahkan stigma dan citra buruk masyarakat terhadap kedua belah kubu. Tidak hanya itu, keduanya harus berlomba-lomba memenangkan hati rakyat serta menonjolkan karakter kepemimpinan masing-masing agar ‘selamat’ dalam Pilpres 2019.

Bertolak ukur dari Pilkada serentak 2018, apakah ketidakmampuan petahana dalam bertahan juga akan terjadi dalam Pilpres 2019?

(Yheni Mulyaningsih untuk TerasJatim.com)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim