Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Melihat Lebih Dekat, Kegiatan Ramadhan di Kampung Mualaf Blitar

Melihat Lebih Dekat, Kegiatan Ramadhan di Kampung Mualaf Blitar

TerasJatim.com, Blitar – Dusun Sekardagung Desa Balerejo Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar Jatim, saat ini dikenal sebagai kampung mualaf. Karena sejak tahun 90-an hingga saat ini sudah ada puluhan warga yang masuk agama islam atau mualaf.

Awalnya masyarakat dari berbagai daerah datang untuk bercocok tanam dengan membawa agama mereka masing-masing. Hingga saat ini ada 5 agama yang tumbuh dan hidup secara berdampingan. Meski ada 5 agama, namun di Dusun Sekardagung saat ini lebih dikenal dengan kampung mualafnya Kabupaten Blitar.

Kepala Desa Balerejo, Deny Chandra mengatakan, hingga saat ini tercatat ada 58 warga yang menjadi mualaf. Karena banyak yang menjadi mualaf, sehingga Dusun Sekardagung sering disebut sebagai kampung mualaf.

“Data para mualaf ini tercatat rapi dibawa oleh tokoh agama Dusun Sekardagung dan Kementerian Agama Kabupaten Blitar,” kata Deny, kepada TerasJatim.com, Selasa (29/05).

Pada bulan Ramadhan seperti ini, warga mualaf banyak yang belajar mengaji di mushola-mushola dekat rumah. Mereka belajar dengan didampingi para santri yang datang dari pondok pesantren dan mengajar selama bulan suci Ramadhan. Mereka belajar mengaji setiap selesai shalat Dzuhur. Ada yang masih belajar huruf arab, ada juga yang audah fasih membaca ayat-ayat Al Quran.

Suprihatin, salah satu mualaf mengatakan, dirinya mengucapkan kalimat syahadat ketika berusia 17 tahun. Saat itu, ia berminpi mendengarkan adzan. Setelah itu, ia tergugah dan langsung mempelajari agama Islam dengan menimba ilmu di pondok pesantren selama 4 tahun.

“Tentu ini saya lakukan untuk mempertebal ilmu agama islam saya. Karena saat anak-anak hingga remaja saya belum mendapatkannya,” terang Suprihatin.

Suprihatin saat ini lebih fasih membaca Al Quran dibandingkan teman mualaf yang lainnya. Saat Ramadhan ini, dirinya juga mengajak warga mualaf lainnya untuk belajar mengaji bersama-sama di mushola.

Sementara itu, warga mualaf lainnya, Panji Basuki mengaku, sudah 10 tahun memeluk agama Islam, setelah bermimpi pergi ke pondok pesantren. Untuk mempelajari agama, ia belajar di mushola dekat rumahnya.

Bagi warga mualaf yang ingin belajat di rumah, ulama desa setempat juga telaten mendampinginya. Sehingga faktor usia juga bukan menjadi penghalang untuk tetap belajar membaca Al Quran.(Mfh/Kta/Red/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim