Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Lomba Senam Pakai Bikini, Heboh

Lomba Senam Pakai Bikini, Heboh

Terasjatim.com, Ponorogo – Tiga hari ini jadi trending topik di media sosial (medsos) terkait lomba senam aerobik di PCC Mall Ponorogo yang bikin gempar dan menuai protes dari semua pihak.

Karena peserta lomba senam tersebut hanya memakai bikini. Protes keras dari semua kalangan diterima pemkab Ponorogo baik secara langsung maupun via media sosial.

Gerah oleh hebohnya senam bikini ini maka  Pj. Bupati Maskur dan DPRD Ponorogo sempat melakukan sidak ke PCC.

“Sidak ini untuk menanggapi protes dari masyarakat baik yang secara langsung disampaikan kepada kami maupun lewat medsos. Karena pengunjung mall dari berbagai kalangan usia, sehingga acara semacam ini dikhawatirkan berdampak negatif kepada masyarakat,“ jelas Ali Mufti, S. Ag ketua DPRD kabupaten Ponorogo.

Senada dengan itu, Maskur, Pj Bupati Ponorogo, juga menyayangkan terjadinya hal yang tidak patut jadi konsumsi publik, mengingat Ponorogo merupakan kota santri.

“Kita klarifikasi terkait lomba aerobik dengan busana yang minim, agar pihak PCC bisa lebih selektif ke depannya. Sehingga terjadi sinergisitas antara Ponorogo sebagai kota santri dan budaya, “ ungkap Maskur kepada TerasJatim.com.

Sementara itu pihak PCC Mall memohon maaf kepada semua pihak, ke depan pihaknya akan lebih selektif untuk even-even yang akan digelar di tempatnya.

Pengamat politik, Muh. Fajar Pramono, menanggapi isu heboh ini dengan bijak. “Pemainnya bukan personal, tetapi sistemik (gerombolan). Merupakan akumulasi waktu yang cukup lama, tidak hanya saat ini. Indikasinya ada beberapa tempat yang sama atau mungkin lebih erotis. Jadi perlu penyeleseian yang subtantif (mendasar) dan sistemik (menyeluruh) serta sistematik (bertahap),“ tutur Muh. Fajar Pramono.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa keinginan mengembalikan Ponorogo sebagai kota santri suatu hal yang patut diapresiasi dan saat inilah momentumnya. Bukan gerakan politik, tapi gerakan moral. Bukan bersifat reaktif, tetapi berdasarkan konsep dan strategi yang matang. Bukan gerakan jangka pendek, tetapi gerakan jangka panjang. Tidak dalam bentuk jargon, tapi dengan konsep yang jelas. Bukan pernyataan politis, tetapi harus dalam bentuk kerja akademik. Bukan dramatisasi dan karikatif, tetapi dengan kesungguhan dan ketulusan. Sudah waktunya antara penguasa, ulama dan akademisi duduk bersama. (Anny/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim