Koperasi Mitra Dhuafa Targetkan 2.500 Warga Miskin di Bojonegoro Miliki Jamban

Koperasi Mitra Dhuafa Targetkan 2.500 Warga Miskin di Bojonegoro Miliki Jamban

TerasJatim.com – Masih minimnya masyarakat Kabupaten Bojonegoro yang memiliki jamban, mengundang kepedulian Koperasi Mitra Dhuafa (Komida). Dari 12.000 perempuan miskin yang menjadi anggota di Kabupaten Bojonegoro, sebanyak 500 anggota masih aktif untuk pembiayaan sanitasi, sementara 300 anggota telah lunas.

“Tahun depan 2.500 anggota ditergetkan sudah memiliki jamban dan saluran air bersih,” kata Sugeng Riyono, Direktur Operasional Komida, Sabtu (18/11).

Untuk mewujudkan program tersebut, Komida selama ini menerapkan sistem perbankan atau pinjaman denga pola Grameen Bank. Sistem ini menitikberatkan pada beberapa hal, yaitu solidaritas, kerjasama kelompok, pengembangan sumber daya manusia, kerja keras, kejujuran, dan ketepatan sasaran kredit yang disalurkan. “Alhamdulillah sistem ini diterima dengan baik oleh masyarakat, dan mereka sangat antusias,” ujarnya.

Di Kabupaten Bojonegoro, dari tiga cabang yang dimiliki, yakni di Kecamatan Ngasem, Kalitidu dan Dander, tercatat perputaran uang Komida mencapai Rp10 milyar yang bisa di akses oleh masyarakat. Karena dana yang masih berada di masyarakat (outstanding) sebesar Rp16,8 milyar. Sedangkan untuk tabungan di Bojonegoro mencapai Rp 7,1 milyar dan untuk kredit macet di Bojonegoro mencapai Rp11,3 juta.

Dikatakannya, keterbatasan ekonomi masih saja menghambat masyarakat Jawa Timur untuk memiliki jamban. Bahkan masyarakat Kabupaten Bojonegoro yang wilayahnya dikenal kaya minyak dan gas, ternyata masih banyak yang belum memiliki jamban, akibat kendala keuangan.

Komida fokus menggarap sektor sanitasi masyarakat miskin karena tidak ada lembaga keuangan besar yang mau menggarap sektor ini. “Sudah tiga tahun kami membantu pembiayaan masyarakat miskin dari sisi kesehatannya dan berhasil,” ujarnya.

Tidak hanya di Bojonegoro, Sugeng menyebutkan, berdasarkan data survey internal (PPI) pada bulan Juli 2014, ada 32.077 anggota belum memiliki tolilet dan 30.268 memiliki toilet tanpa septitank. Artinya ada 62.345 anggota kita yang belum memiliki jamban yang layak dan sehat dari 170.000 anggota Komida (36,6%). “Secara nasional Komida menargetkan 20 ribu anggota pada tahun 2018 memiliki jamban,” ujarnya.

Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Komida menggandeng lembaga nirlaba asing Water.org dan petugas sanitarian lokal. Selain itu memasukkan pembiayaan sanitasi sebagai salah satu indikator keberhasilan cabang dari sisi target Sosial Performance Management (SPM), Pelatihan untuk staf Komida, memberikan insentif untuk staf memasukkan indikator SPM, seleksi & pelatihan untuk tukang, serta pemicuan kepada anggota secara langsung dan tidak langsung.

Salah seorang penerima kredit jamban, Supeni yang warga RT 19, RW 04 Dusun Kedung Ngingas, Desa Kolong Kecamatan Ngasem, Bojonegoro mengaku sebetulnya ada program pemerintah dalam pengadaan jamban. ”Tapi bantuannya terlalu sedikit untuk orang miskin seperti kami,” ujarnya.

Ia menyebutkan, bantuan pemerintah lewat desa yang hanya berupa 2 unit bis, 1 closet dan biaya untuk tukang bangunan Rp 30 ribu. “Tanpa bantuan dana dari pihak lain, tak mungkin kami bisa membuat jamban,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, Supeni dan warga desa yang lain sudah terbiasa buang hajat di tegalan atau hutan. Tapi ketika anak perempuannya semakin dewasa, dia merasa butuh fasilitas buang air yang lebih aman dan nyaman. Berkat kucuran kredit dari Komida dan kerjasama water.org, ibu dua anak itu kini sudah memiliki jamban yang proses pembangunannya menghabiskan anggaran hingga Rp 10 juta. (Jal/Kta/Red/TJ)

banner 468x60

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim