Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Kerajinan Rotan Balearjosari, Terancam Punah

Kerajinan Rotan Balearjosari, Terancam Punah

TerasJatim.com, Malang – Sentral kerajinan anyaman rotan di Balearjosari, kecamatan Blimbing, Kota Malang, merupakan salah satu ikon Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kota Malang.

Tak dapat dipungkiri, kerajinan rotan ini turut membesarkan nama kota Malang ke manca negara. India, Malaysia, Brunai, Thailand adalah negara tetangga yang telah mengakui kualitas kerajinan asli Malang ini.

M. Mardian (45) pengrajin, menyampaikan naik surut perkembangan bisnis rotan ini ke TerasJatim.com. “Kerajinan rotan ini awalnya dibawa oleh orang Cirebon” ungkapnya memulai obrolan. Ditahun 1990-an kerajinan anyaman di Balearjosari masih sederhana. Kerajinan anyaman rotan ini mulai berkembang sejak tahun 2005.

Seiring dengan perkembangan dan makin ramainya permintaan pasar, Mardian berinisiatif menambah mendatangkan karyawan dari kota-kota penghasil kerajinan serupa, seperti dari Cirebon, Jepara, Kudus. “Di tahun 2006-2009 adalah masa kejayaan kerajinan ini, saat itu saya sudah memperkejakan pengrajin dari Cirebon, Kudus,Jepara.” ungkapnya.

Dengan begitu, menurutnya, variasi produk di Balearjosari makin beragam. Dari pemikiran tersebut, usaha anyaman yang rintis sejak tahun 2005 berkembang pesat. Sebagai pengrajin dan pemikir pada waktu itu, dirinya menjadi panutan banyak pengrajin lainnya. “Dahulu sebelum (krisis) moneter ada 62 orang, tetapi setelah 1998 banyak yang bangkrut, dan hingga sekarang menyisakan 11 pengusaha rotan disini,” terang pria sederhana ini.

Berdasar keberhasilan dalam menciptakan variasi produk dan pengembangan usaha kerajinan rotan di Balearjosari, di tahun 2006 dirinya di percaya oleh Dinas Perekonomian (sebelum dinas Koperasi) sebagai kordinator pengrajin. Waktu itu, dirinya berkesempatan membuka pameran dan pelatihan untuk pengusaha rotan di beberapa Kota.

Mardian yang berpengalaman dalam usaha rotan ini, selalu berinovasi dalam produknya, dengan tetap menjaga kualitas serta pembaruan alat lama dengan beralih ke alat modern.  Terlebih kerajinan adalah bisnis yang mempunyai persaingan hebat di negara-negara lain.

Perdagangan bebas dan standarisasi ekonomi dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan segera dibuka di akhir tahun 2015, menjadikan permasalahan tersendiri bagi pengusaha rotan Balearjosari. Mardian secara pribadi mengaku siap bersaing dalam produk, tetapi dirinya sangsi akan bisa bertahan bila tidak ada campur tangan pemerintah.

“MEA tak melulu jual produk ke luar, tetapi ada persaingan dagang dan itu butuh perundang-undangan,” keluhnya tanpa menjelaskan detail bentuk undang-undang MEA.

Di sisi lain, saat ini pengrajin sudah merasakan persaingan bebas dan kesulitan bahan baku rotan. “Ini momok tersendiri bagi banyak pengusaha rotan di sini,” tegas bapak dua putra ini.

Mardian juga menjelaskan, bahwa produk kerajinan Balearjosari sudah layak dan mampu bersaing dengan produk luar, karena bahan dan pengerjaannya yang bagus.

Diakhir obrolan, Mardian meyakini bila pemerintah tidak segera mengambil tindakan dan membentengi para pengrajin, dirinya mempredikisi dalam 5-6 tahun mendatang pengrajin anyaman rotan di Balearjosari akan hilang. (Nas/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim