Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Jenazah TKI Asal Bondowoso Korban Kapal Terbalik, Tiba di Rumahnya

Jenazah TKI Asal Bondowoso Korban Kapal Terbalik, Tiba di Rumahnya

TerasJatim.com, Bondowoso – Kedatangan jenazah TKI korban tenggelamnya kapal di Perairan Tanjung Bemban, Batu Besar, Perairan Bemban, Kepulauan Riau beberapa waktu lalu, disambut tangis histeris keluarga.

Jenazah Kurdiyanto (40) warga Desa Kemirian, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tiba di rumah duka pada Selasa dinihari, pukul 01.40 WIB.

“Pesawat landing pada pukul 18.00 WIB dan keluar dari cargo pukul 20.00 WIB, kita sedikit terlambat sampai di rumah duka, karena kita ambil jalan memutar, yaitu lewat Situbondo,” kata Staf Lokal Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, (LP3TKI) Surabaya, Imam Buchori yang mengantarkan jenazah, Selasa (15/11)

Lanjut Imam, dalam peristiwa tenggelamnya kapal tersebut, terdapat 10 orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang meninggal di Perairan Tanjung Bemban, Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Batam, Provinsi Kepulauan Riau pada 2 November 2016, setelah speedboat yang ditumpanginya menabrak karang sehingga terbalik.

“Ada 10 korban meninggal darfi Jawa Timur yang sudah kita antarkan jenazahnya, termasuk di sini. Sementara masih ada 7 kenazah yang belum teridentifikasi,” terangnya.

Sementara itu, korban selamat yang merupakan paman korban, Harianto (50) warga Desa Pejagan, Kecamatan Jambisari Darussholah, mengaku berjarak sekitar 1 meter dari korban sebelum speedboat terbalik.

“Saat itu saya hanya berfikir bagaimana menyelamatkan diri saya sendiri, dan  setelah peristiwa itu saya tidak melihat keponakan saya,” akunya.

Harianto selamat karena saat speedboat terbalik dirinya menemukan tong yang digunakan sebagai pegangan, hingga akhirnya ditolong oleh nelayan yang sedang melaut.

“Saya berenang selama 1 jam dengan berpegangan ke tong, hingga akhirnya ditolong nelayan yang sedang melaut. Kalau gak ketemu nelayan mungkin saya juga sudah mati,” terangnya.

Harianto mengaku, sudah keluar masuk Malaysia sebanyak empat kali dengan menggunakan jasa tekong atau melalui jalur Ilegal. Terakhir kali dia masuk ke Malaysia bersama korban pada 27 November 2014.

“Saya sudah empat kali keluar masuk Malaysia melalui tekong, di sana saya bekerja jadi tukang plaster proyek bangunan, tapi kali ini saya sudah tidak mau balik lagi ke Malaysia,” katanya. (Luk/Red/TJ/KBRN)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim