Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Indonesia Candu Hoax, Pilpres Sehat?

Indonesia Candu Hoax, Pilpres Sehat?

TerasJatim.com – Ramainya perbincangan tentang kasus Ratna Sarumpaet, harusnya bisa dimaklumi. Menjelang pilpres, segala hal kecil diubah menjadi besar. Se-simple apapun masalah, bara api gampang sekali datang.

Mari kita lihat beberapa contoh peristiwa kecil yang menjadi bumbu sehari-hari di perbincangan masyarakat Indonesia jelang pilpres.

Pertama, pengubahan nama bandara BIL (Bandara Internasional Lombok) menjadi Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAMIA). Akibat dari pengubahan nama ini, muncul lah isu pencopotan prasasti SBY. Isu tersebut menggiring pada munculnya stigma “tidak tahu terima kasih” dari terhadap presiden terdahulu.

Lalu ada aksi walk-out SBY saat deklarasi kampanye damai oleh KPU di Jakarta beberapa waktu lalu. Selanjutnya ada perdebatan tentang pada siapa keluarga Gus Dur akan menjatuhkan pilihan dalam pilpres nanti. Hal-hal seperti itu juga menjadi polemik.

Ada juga aksi kecil Jokowi yang melakukan hormat pada saat lagu Indonesia Raya berkumandang di KPU, dan yang paling terbaru adalah pengakuan kebohongan Ratna Sarumpaet.

Hal-hal kecil tersebut lebih menarik atensi penikmat berita dibanding isu lainnya. Harusnya, masyarakat tidak mudah terpancing dengan isu sepert iini. Sebab, akan banyak faktor yang dirugikan, salah satunya adalah Pilpres 2019 itu sendiri.

Bisa dibayangkan jika calon pemilih adalah orang-orang yang mudah termakan oleh hoaks, maka pemilih akan mudah terpengaruh, yang pada akhirnya mereka memilih tanpa pertimbangan, hanya emosi lah indikator yang digunakan.

Pemilih yang teredukasi: Bagaimana?

Kriteria menjadi pemilih yang teredukasi adalah bukan hanya sekadar mengerti politik, namun paham bagaimana menanggapi gejolak politik. Mereka seharusnya menjaga emosi dan tidak menelan mentah-mentah informasi yang diterimanya.

Tumbuh suburnya isu yang ada, juga tidak murni karena untuk membangun opini publik. Jika tidak ada yang mengonsumsi, niscaya isu tersebut akan hilang dengan sendirinya. Namun faktanya, hoaks seakan candu.

Kurangnya keinginan untuk mencari tahu, mempermudah para produsen isu merasa menang. Bisa dibayangkan jika isu dan berita hoaks ini setiap hari dikonsumsi oleh pemilih Pilpres 2019?

Hanya ada dua kemungkinan, satu, mereka akan terpecah belah dan membenci salah satu kubu. Kedua, mereka akan bersikap tidak peduli dan memilih secara sembarangan di Pilpres 2019.

Untuk menjadi pemilih yang terdidik, setiap isu dan berita seharusnya ditelusuri kebenarannya, dan tidak langsung percaya lalu menyebarkannya. Di lain sisi, pemilih seharusnya mencari track record setiap capres dan cawapres. Tujuannya tentu saja untuk menghindari salah pilih, sehingga mata pemilih tidak ditutup oleh kabut isu dan hoaks.

Tidak bisa dipungkiri, menjelang pilpres, rakyat Indonesia dipisahkan menjadi dua kubu, yakni pro-Prabowo atau pro-Jokowi. Ini sedikit miris. Bukankah pilpres adalah pesta rakyat? Jika dua kubu ini saling menjatuhkan, mencela bahkan melemparkan isu tidak benar, lalu siapa sebenarnya yang sedang berpesta?

Maka pada akhirnya saat di tengah kepemimpinan presiden terpilih nanti, ada saja pihak lain yang mencoba menebar isu “kebencian”.  Akibatnya, tak menutup kemungkinan, perpecahan itu merangsang terjadinya ketidak percayaan terhadap kepemimpinan.

Sudah waktunya bagi kita sebagai pemilih, menjadi pribadi yang tidak gampang dan terus mengumbar emosi. Kita sering lupa tentang asas Luber dan Jurdil dalam setiap pesta rakyat (pemilu). Sekarang pemilih cenderung mengumbar pilihannya tanpa memperhitungkan track record calon yang akan dipilihnya.

Lucunya, alasannya bisa sangat sederhana. Hanya karena capres-cawapres berasal dari daerah dan suku yang sama dengannya, atau karena faktor fisik (karena bentuk tubuh gagah atau rupa yang ganteng).

Bisa dibayangkan hancurnya pesta rakyat yang akan digelar nanti? Bukan hancur dalam konteks penyelenggaraan, namun dalam persepsi dan opini. Setiap dari pemilih harus menjaga iktikad baik dalam penyelenggaraan, baik sebelum maupun sesudah pilpres dilaksanakan.

Langkah pertama bagi pemilih, adalah mencari tahu track record masing-masing capres dan cawapres, baik riwayat hidup, catatan kriminal, prestasi kerja dan faktor lainnya.

Kedua, saring semua informasi yang masuk, jangan menelan informasi mentah-mentah. Selain itu, jadilah pemilih yang bijak dengan tidak menjelek-jelekkan pasangan lainnya.

Fokus pada fakta, jangan termakan isu. Berusaha untuk mencari tahu kebenaran setiap isu. Sebab isu yang berisi informasi tidak benar adalah tantangan terbesar untuk bangsa ini. Maka mulai dari diri sinediri, didiklah emosi dan gunakan akal sehat. (Debora Rismarito)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim