Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Grup Sari Budoyo Tulungagung Akan Lakonkan ‘Sandyakala Majapahit’ di Taman Budaya Jatim

Grup Sari Budoyo Tulungagung Akan Lakonkan ‘Sandyakala Majapahit’ di Taman Budaya Jatim

TerasJatim.com – Ketoprak Sari Budoyo Kabupaten Tulungagung, akan tampil dalam pagelaran periodik teater tradisi di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), di Jalan Genteng Kali Surabaya, pada Sabtu (03/02) nanti. Mereka akan memainkan lakon ‘Sandyakala Majapahit’.

“Ketoprak Sari Budoyo akan membuka bulan Februari. Selama sebulan banyak pertunjukan yang akan ditampilkan,” ujar.Kepala UPT Taman Budaya, Sukatno.

Kisah Sandyakala Majapahit menceritakan, Abdul Jalil meninggalkan Caruban Larang dengan disertai Abdul Malik Israil, Syarif Hidayatullah, Raden Qasim, 33 murid Paguron Lemah Abang dan 19 santri Giri Amparan Jati.

Ketika ia memasuki kadipaten-kadipaten yang pada masa lalu merupakan bagian Majapahit, sadarlah dia bahwa di balik segunung masalah yang sangat sulit dipecahkan di Caruban Larang itu sesungguhnya terhampar kemudahan di tempat yang selama ini dibayangkannya jauh lebih berat dibandingkan Caruban Larang.

Tanpa disangka, kenyataan itu dialaminya ketika ia menghadap para adipati muslim yang menjadi penguasa di sepanjang pantai utara Nusa Jawa. Bagaikan menerima sesuatu yang tidak asing, para raja muda itu menyambut dengan suka cita gagasan masyarakat ummah yang ditawarkan Abdul Jalil.

Bagi setiap muslim yang memahami makna kebenaran Islam secara benar, gagasan Abdul Jalil untuk menegakkan tatanan baru masyarakat ummah bukanlah sesuatu yang baru. Sebab, kisah hidup Nabi Muhammad SAW. dan ke-empat sahabat penggantinya bukanlah sesuatu yang terpisah sama sekali dari ajaran Islam.

Perikehidupan mereka sebagai pemimpin umat telah menjadi bagian dari harapan ideal yang diabadikan dalam kitab-kitab dan dilegendakan dari mulut ke mulut.

Gagasan kekhalifahan, diakui atau tidak, telah menjadi bayangan indah yang ingin diwujudkan oleh setiap muslim yang benar-benar memahami makna ke-Islaman. Dan lantaran itu, tanpa kesulitan berarti para adipati muslim di sepanjang pesisir utara Nusa Jawa tidak sekadar menerima gagasan masyarakat ummah, tetapi juga menyatakan dukungan untuk mewujudkannya dalam kehidupan penduduk di wilayahnya masing-masing.

Mula-mula Abdul Jalil mendapat dukungan dari Pangeran Gandakusuma, Adipati Kendal, yang tidak lain adalah putra adipati pertama, Syaikh Suta Maharaja. Adipati yang juga kakak lain ibu Siti Zainab, istri Abdurrahman Rumi, ternyata sudah mendengar gegap gempita perubahan tatanan baru di Caruban Larang berdasarkan penuturan orang-orang Kendal yang tinggal di sana.

Sebagai bukti penerimaan dan dukungannya, sang adipati menghadiahi Abdul Jalil tanah Shima seluas 70 jung (196 hektar) yang terletak di antara Sungai Wela dan Sungai Salak. Tanah Shima itu adalah tanah perbatasan yang diperebutkan antara adipati Bojong (Tegal), Pangeran Danaraja. Itu berarti, keberadaan tanah itu sebagai Shima masih membutuhkan persetujuan dari adipati Bojong.

Abdul Jalil menempatkan 9 santri Lemah Abang dan Giri Amparan Jati serta membuka pemukiman baru dan mengatur pembagian tanah garapan kepada penduduk yang ingin tinggal di situ. Sesuai petunjuk Sri Mangana, tugas utama mereka adalah menegakkan tatanan sebagaimana yang berlaku di Lemah Abang, Japura. Mereka diharapkan dapat mempengaruhi penduduk desa sekitar dengan tatanan baru tersebut.

Dukungan adipati Kendal ternyata tidak hanya pemberian hadiah tanah Shima. Sekitar 500 orang prajurit pilihan dikirimnya ke Caruban Larang untuk membantu perjuangan khalifah dan memberikan semangat kepada warga Kendal di Caruban Larang.

Sang adipati tampaknya sadar bahwa warga Kadipaten Kendal yang tinggal di Caruban Larang berjumlah ribuan orang, terutama warga asal Kendal, Magelung, Getas, Pandes, dan Gebang. Sehingga, menurut sang adipati, kehancuran khalifah Caruban Larang akan bermakna kehancuran pula bagi warga Caruban Larang asal Kendal.

Sebelum pergi meninggalkan kadipaten, Abdul Jalil mendapat kepastian bahwa sang adipati akan segera mewujudkan gagasan masyarakat ummah di Kadipaten Kendal. (Jnr/Kta/Red/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim