Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Diacuhkan Gubernur, Rencana Bandara Kediri Jalan Terus

Diacuhkan Gubernur, Rencana Bandara Kediri Jalan Terus
Rencana lokasi pembangunan bandara di daerah sekitar Monumen Simpang Lima Gumul Kediri Jawa Timur

Terasjatim.com, Kediri – Keputusan Gubernur Jawa Timur Soekarwo untuk membangun bandara di Madura dan Malang tak membuat Pemerintah Kabupaten Kediri surut.

Pemerintah Kabupaten Kediri akan tetap memperjuangkan pembangunan bandara di Kediri sesuai dengan studi kelayakan yang dikantongi, (Selasa, 15 Maret 2016).

Dilansir dari Tempo.co, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Kediri Haris Setiawan mengatakan, pemerintah Kediri akan tetap memperjuangkan pembangunan bandara, seperti yang telah direncanakan sejak 2012.

Pemerintah bahkan telah menyiapkan lahan khusus yang cukup besar di sebelah timur monumen Simpang Lima Gumul (SLG), yang didesain menjadi pusat aktivitas bisnis. “Kita akan tetap memperjuangkan bandara di Kediri,” kata Haris.

Haris mengatakan pembangunan bandara di Malang dan Madura, yang menjadi program pemerintah provinsi, adalah wewenang Gubernur Soekarwo sepenuhnya. Pemerintah tentu memiliki pertimbangan mengapa bandara didirikan di wilayah itu.

Namun pembangunan dua bandara tersebut tak akan menyurutkan niat Pemerintah Kabupaten Kediri untuk mendirikan bandara sendiri. Sebab, hasil studi kelayakan yang dilakukan beberapa tahun lalu menunjukkan besarnya manfaat bandara di wilayah eks karesidenan Kediri, seperti yang disampaikan Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak.

Hasil kajian kelayakan Kediri menyebutkan jumlah calon penumpang pesawat dari Kediri dan kota sekitarnya sangat besar. Selama ini mereka kerap mengeluh terhadap sulitnya mengakses transportasi udara. Sebab, masyarakat sekitar harus menuju Surabaya terlebih dulu. Padahal intensitas perjalanan udara mereka cukup tinggi.

Calon penumpang itu, selain dari Kediri, berasal dari Blitar, Trenggalek, Tulungagung, Nganjuk, Jombang, dan kota-kota lain, yang kesulitan menjangkau Bandara Juanda di Sidoarjo maupun Abdulrahman Saleh di Malang.

“Tentu sekarang jumlah animo penumpang lebih besar,” kata Haris.

Tak hanya itu, aktivitas bisnis dan transportasi barang akan lebih cepat menjangkau wilayah karesidenan Kediri jika memiliki bandara sendiri. Karena itu, jika mendapat izin dari pangkalan TNI AU di Magetan, Kabupaten Kediri siap membangun bandara kelas internasional dengan lintasan lebih panjang daripada Bandara Juanda. Hal ini lantaran kawasan areal yang disiapkan lebih besar daripada Bandara Juanda.

Seperti diberitakan sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Soekarwo memastikan menambah dua bandara, yakni di Kabupaten Malang dan Madura. Setelah mengantongi kajian kelayakan, Soekarwo menyatakan pemerintah pusat akan membantu pembiayaan pembangunannya.

Menurut Soekarwo, Bandara Purboyo, yang dibangun di lahan milik TNI AL di Kecamatan Bantur, akan mengintegrasikan mode transportasi di jalur lintas selatan Jawa Timur, yang diperkirakan selesai pada 2019.

Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak juga mengungkapkan, pembangunan bandara di Malang dan Madura dinilai tak menyelesaikan persoalan transportasi udara wilayah barat daya Jawa Timur. Sebab, jalur penerbangan pesawat dari Bandara Purboyo bukan melintas dari selatan ke barat, tapi belok ke timur, terus naik ke utara sebelum kembali lewat jalur Surabaya-Jakarta.

Rute tersebut menghindari wilayah udara eks karesidenan Kediri yang masih terisolasi oleh jalur pesawat tempur. Karenanya, keberadaan bandara itu tidak menyelesaikan persoalan transportasi udara di wilayah barat daya Jawa Timur. (TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim