Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Daya Tarik Budaya Panji Asli Jawa Timur

Daya Tarik Budaya Panji Asli Jawa Timur

TerasJatim.com, Malang – Indonesia merupakan negara kepulauan dengan bermacam suku bangsa, menjadikan Indonesia kaya akan khasanah budaya. Begitu juga Jawa Timur yang merupakan kawasan kaya akan peradaban dan menyimpan banyak peninggalan sejarah.

Selain banyak peninggalan yang berbentuk candi dan prasasti, kebudayaan Panji juga sangat berkembang di wilayah Jawa ini. Banyak pemerhati kebudayaan dan akademisi yang menulis literature Panji sebagai desertasi pendidikannya.

Budayawan Henry Nurcahyo, yang sejak 2010 mendalami kisah dan perkembangan Panji, akhirnya menerbitkan buku dengan judul “Memahami Budaya Panji”. Launching dan bedah buku di gelar di Galeri Art Semeru, yang bertempat di Jalan Semeru. No.42 Malang, kemarin malam (29/11).

Dalam bedah buku ini, Nurcahyo juga menghadirkan arkeolog dari Universitas Negeri Malang (UNM), Drs. Dwi Cahyono.

Sastra tentang Panji memang menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak budayawan. Kisah-kisah cerita Panji yang tidak berpakem dan selalu berevolusi menjadikan sastra panji menggelitik untuk selalu di gali.

Hendry Nurcahyo pria kelahiran Lamongan ini mengaku, bahwa Panji adalah warisan leluhur yang sudah tersebar hingga Asia. “Cerita Panji ada di banyak negara, seperti Thailand, Myanmar, Kamboja, Malaysia,” ujarnya saat membuka bedah buku yang digelar secara lesehan itu. Di sini Nurcahyo menuturkan, bahwa sastra klasik Panji berasal dari kerajaan Kadiri, meluas hingga Asia di saat era kerajaan Majapahit.

Sastra Panji berkembang pesat era Hayam Wuruk berkuasa, yang mewajibkan masyarakat untuk menyebarkan sebagai benteng masuknya kebudayaan asing saat itu. Nurcahyo dalam menerbitkan buku “memahami budaya Panji” mengaku merangkum dari banyak buku tentang Panji.

“Selain rangkum dari buku Panji yang banyak beredar, saya juga mendatangi beberapa situs yang ada.” Ungkapnya. Dirinya melanjutkan, bahwa 80 naskah Panji tersimpan di Perpustakan Nasional, dan ratusan naskah yang juga di simpan di Belanda.

Banyak cerita rakyat yang berasal dari alur kisah sastra Panji. Dirinya menyebutkan bahwa cerita Ande-Ande Lumut, si Entit, Timun Emas dan banyak lagi cerita rakyat yang berasal dari kisah Panji.

“Generasi sekarang tidak mengetahui itu,” tegasnya.

Sejalan dengan uraian Nurcahyo, Arkeolog Dwi Cahyono menyampaikan bahwa budaya panji adalah budaya yang egaliter, merakyat,dan nasionalis. Hal ini bisa dilihat dari kisah-kisah cerita Panji Asmorobangun dalam perjalanannya menemukan Dewi Sekartaji.

“Drama kemanusaian, ada percintaan, penyamaran dan patriotisme ada dalam cerita Panji,” tuturnya. Dwi Cahyo melanjutkan, bila budaya Panji mengalami pasang surut, degradasi kebudayaan asli Jawa Timur ini sangat kentara hingga hari ini.

“Budaya ini sangat berkembang dan menjadi kebanggan masyarakat di tahun 1930, lalu surut ,dan mengalami puncaknya lagi di tahun 1970.” Tuturnya.

Diakhir acara bedah buku tersebut, budayawan berpotongan plontos ini juga menayangkan trial film animasi Panji dan film wayang beber. Dirinya berharap dengan munculnya buku ini, menjadikan masyarakt lebih dekat dengan budaya lokal yang telah di akui dunia.

Seperti diketahui bersama, bahwa budaya Panji sudah diakui oleh Unesco sebagai warisan budaya asli Jawa Timur. (Nas/TJ)

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim