Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Bikini, Bikin Gaduh

Bikini, Bikin Gaduh
ilustrasi

TerasJatim.com – Kegiatan senam aerobik di sebuah pusat perbelanjaanl di Ponorogo Jawa Timur, mendadak bikin heboh para netizen di media sosial. Pasalnya, konon peserta kegiatan senam aerobik tersebut menggunakan bikini, sementara yang menyaksikan terdiri dari beragam usia, bahkan banyak yang masih anak-anak “bau kencur”.

Tereksposnya kegiatan senam aerobik dengan mengenakan bikini di mall Ponorogo tersebut, sebetulnya jauh dari endusan awak media. Hal ini terekspos karena ramainya gunjingan di jejaring sosial.

Terkait beredarnya foto senam aerobik pakai bikini di media sosial, sejumlah netizen turut mengecam dan menganggap bahwa kegiatan tersebut tidak patut diselenggarakan di ruang publik, karena dianggap telah mengarah kepada bentuk pornografi secara terbuka, yang tidak sesuai dengan adat dan istiadat ketimuran.

Mungkin saya termasuk orang yang “kurang piknik”. Kebetulan saya kurang memahami tentang lika-liku dunia senam aerobik. Buat saya, senam aerobik adalah dunianya kaum hawa. walaupun saya juga mendengar, bahwa kaum bapak-bapak juga boleh mengikutinya.

Jadi, kalau ditanya apakah di sanggar-sanggar senam tersebut ada keharusan pesertanya memakai bikini atau apapun namanya, saya jawab tidak tahu ! Karena sejauh ini saya belum pernah masuk atau ngintip ibu-ibu yang sedang  senam. Hehehe

Buat saya pribadi, bikini, cawat atau apapun namanya adalah termasuk pakaian dalam yang seharusnya tidak dipertontonkan di ruang publik. Selain tidak elok, orang jawa bilang itu saru. Sebab bagaimanapun juga, pakaian dalam adalah sesuatu yang sangat privat.

Bisa jadi, ada yang beranggapan bahwa ketika melakukan rutinitas dalam sebuah even atau kompetisi, bikini adalah sesuatu hal yang lumrah dan biasa untuk dikenakannya. Tapi paling tidak, masih banyak yang menganggap bahwa itu sudah di luar kebiasaan. Dan pada akhirnya, akan menjadi sebuah polemik yang tidak konstruktif.

Mungkin, bikini dalam sebuah kegiatan senam adalah jamak dikenakan, dan  sudah menjadi bagian dari tradisi di dunia aerobik, terlebih di luar negeri. Karena dampak dari pengaruh dari budaya asing inilah, pelaku senam aerobik menganggap itu masih dalam batas kewajaran.

Mungkin kita  suka meniru budaya asing, karena kita berpikir bahwa setiap budaya asing adalah sebuah bentuk dari peradaban modern yang  baik. Padahal kalau kita mau jujur, banyak hal yang modern terkadang tidak pas kalau kita terapkan secara serampangan di lingkungan kita. Sebab, kita masih menganut sebuah nilai-nilai moral yang terkandung dalam adat dan budaya kita.

Budaya timur yang sangat sopan dinilai tidak sesuai dengan konsep bikini yang ada dalam kompetisi ini. Maka akan banyak pendapat sinis yang   menyikapinya. Sebab apapun namanya, senam adalah salah satu elemen dari sebuah sport, yang seharusnya disikapi jauh dari pandangan sensualitas apalagi seksualitas.

Berbicara mengenai hal-hal berbau seksualitas dan sensualitas, masyarakat kita cenderung bersikap terbelah dan terkadang abu-abu. Ada yang bilang, bahwa sensualitas adalah bagian dari sebuah seni dan keindahan. Namun di sisi lain, banyak yang menyebut, bahwa bentuk-bentuk eksploitasi lekukan tubuh dan aurat seseorang di muka publik, adalah sebuah pelanggaran norma sosial dan etika, karena dianggap itu adalah bentuk pornografi.

Kita tentu menghormati hak siapapun untuk mempertontonkan sebuah seni dan keindahan. Tapi kalau memang itu akan menjadi sebuah gunjingan yang kurang sedap di kuping kita, alangkah baiknya hal tersebut dipikirkan kembali. Atau paling tidak, kegiatan-kegiatan yang kiranya bisa menghadirkan kehebohan publik, layaknya hanya untuk kalangan terbatas saja.

Sebab, tanpa kita perhitungkan sebelumnya, kadang sebagian masyarakat kita masih melihatnya dari sisi dan kacamata yang berlainan dengan pelakunya. Hal ini bisa menjadi sebuah opini yang menghakimi. Alih-alih berakibat baik, sikap judgemental ini justru menghilangkan respect sesama masyarakat kita.

Alangkah eman-nya, waktu kita terbuang percuma hanya untuk berpolemik  tentang “bikini”.

Salam Kaji Taufan

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim