Bengawan Solo di Bojonegoro Meluap, Tiap Desa di Bantaran Rugi Ratusan Juta

Bengawan Solo di Bojonegoro Meluap, Tiap Desa di Bantaran Rugi Ratusan Juta

TerasJatim.com, Bojonegoro – Luapan air sungai Bengawan Solo di Bojonegoro Jawa Timur yang belakangan melanda wilayah desa-desa sepanjang bantaran sungai, tak urung hal ini mengakibatkan kerugian warga petani hingga ratusan juta rupiah setiap desanya.

Tak kurang dari 12 kecamatan di Bojonegoro yang desanya berderet di tepian sungai terpanjang di Pulau Jawa ini. Tak pelak, setiap air sungai meluap selalu menimbulkan dampak, terutama kerugian material dan infrastruktur yang ada.

Menurut Sekretaris Desa Kedungprimpen, Kecamatan Kanor, Dzohir, di desanya para petani mengalami kerugian Rp3,6 juta pada setiap hektar lahan pertanian yang saat ini telah memasuki masa tanam padi dengan usia tanam antara 5-12 hari.

Ia merinci detail, pengeluaran petani di desanya secara akumulatif sehingga setelah semua terhitung ternyata kerugiannya mencapai nilai fantastis berkisar Rp752.600.000 dari total lahan yang ada di desa yang terkenal sukses di bidang padi arealan tersebut.

“Dari penghitungan yang dilakukan tim areal desa perhektar dari 212 hektar lahan meliputui biaya traktor Rp500.000, biaya pembenihan Rp500.000, biaya daut 15 orang x 70.000, biaya tanam 60 0rang x 25.000, perhektar biayanya Rp3.550.000 x 212 hektar,” kata Sekdes kepada TerasJatim.com, Kamis (13/10).

Ia membayangkan, jika setiap desa yang berada di tepian sungai Bengawan Solo ini rata-rata memiliki luas lahan yang sama dengan lahan di desanya maka kerugian pertanian di Bojonegoro kali ini mencapai puluhan milyar rupiah.

“Jadi sudah tepat jika para petani mengikuti himbauan dari Bupati Bojonegoro beberapa waktu lalu agar mengasuransikan tanaman padinya,” pungkas Sekdes senior di Kecamatan Kanor itu.

Namun demikian, dari hasil informasi di lapangan menyebutkan hingga saat ini belum ada pihak terkait yang turun guna merespon himbauan Bupati Bojonegoro terkait asuransi pertanian yang telah menyebar melalui medsos terutama WA grup tersebut.

“Belum ada yang turun. Di Kanor ini belum satupun dari pihak Dinas Pertanian yang memberikan arahan kepada para petani soal himbauan asuransi dari Pak Bupati itu. Lha terus kita ini mau gimana kalau tidak tahu cara mengasuransikan padi kami,” ujar Pakdhe Nur, salah satu petani di Kanor. (Saiq/Red/TJ)

banner 468x60

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim