Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Antisipasi Gesekan di Tahun Politik, PSHT Tiadakan Tradisi Suroan dan Nyekar

Antisipasi Gesekan di Tahun Politik, PSHT Tiadakan Tradisi Suroan dan Nyekar

TerasJatim.com, Madiun – Tradisi Suroan atau “nyekar” ke makam para pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pusat Madiun, tahun ini ditiadakan.

Hal itu disepakati bersama antara Pemkot Madiun, Polres Madiun Kota dan perwakilan PSHT pusat Madiun, di gedung Diklat Kota Madiun, Jumat (31/08).

Wakil Walikota Madiun, Armaya mengatakan, pelaksanaan nyekar atau ziarah makam pendiri PSHT pusat Madiun sementara ditiadakan, karena mengantisipasi potensi gesekan. Apalagi, tahun 2018 dan 2019 merupakan tahun politik.

“Jadi kalau dulu kan ada prosesi nyekar, nah untuk tahun ini ditiadakan karena terkait dengan tahun politik ya. Alhamdulillah ini sudah menjadi kesepakatan bersama antara pengurus PSHT pusat Madiun dengan pemkot dan TNI/Polri,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kapolres Madiun Kota, AKBP Nasrun Pasaribu menuturkan, tahun ini khusus di PSHT pusat Madiun tradisi nyekar ditiadakan. Kalau pun masyarakat ingin mengadakan tradisi Suroan, diperbolehkan, asalkan dilakukan di daerahnya masing-masing.

Menurutnya, kendatipun tidak ada tradisi nyekar, aparat kepolisian masih akan tetap menyiagakan personelnya. “Yang pertama karena tahun ini adalah tahun politik, kemudian juga tidak ada mobilisasi massa untuk kegiatan pelaksanaan Suroan. Kalau misalkan melaksanakan, ya di daerahnya masing-masing. Intinya kalau di Kota Madiun tidak ada pelaksanaan untuk kegiatan nyekar,” tandasnya.

Ilustrasi

Sementara, Ketua Umum PSHT pusat Madiun, Moerdjoko mengimbau kepada seluruh warga PSHT untuk tidak mengadakan kegiatan nyekar pada malam satu Suro dan satu Suro. Ini karena nyekar dapat dilaksanakan kapanpun, dengan catatan tidak mengerahkan massa dalam jumlah banyak.

“Kita mengimbau, kita mengharapkan tidak ada kegiatan nyekar pada malam Suro dan tanggal 1 Suro. Nyekar bisa dilaksanakan kapanpun, monggo. Tidak perlu berbondong-bondong, silahkan pribadi masing-masing. Karena kita menghormati ini kan tahun politik. Kegiatan nyekar itu tidak usah di bulan Suro, di bulan biasa pun bisa, yang penting kan niat kita,” kata Moerdjoko.

Selaku Ketua Umum PSHT pusat Madiun, dirinya telah membuat surat ke seluruh cabang PSHT agar tahun ini tidak melaksanakan kegiatan nyekar di pusat Madiun. Bahkan rapat koordinasi dengan cabang PSHT seluruh Indonesia juga sudah dilakukan beberapa waktu lalu.

“Kami datang ke masing-masing wilayah. Khusus untuk PSHT Jateng ketua cabangnya sudah kami kumpulkan ke Madiun tanggal 18 Agustus kemarin, kemudian yang wilayah Jatim, kami kumpulkan tanggal 25 Agustus kemarin,” pungkasnya. (Bud/Kta/Red/TJ/KBRN)

Baca juga: http://www.terasjatim.com/tahun-politik-kapolda-jatim-minta-tradisi-suro-dan-suran-agung-ditunda/

Subscribe

Terimakasih Telah Berlangganan Berita Teras Jatim